Minggu, 13 April 2014
Serial catatan Perjalanan; Rumah*
Rumah itu menghadap ke laut, laut yang luas. Airnya transparan dalam gradasi hijau lalu biru menerpa hingga ke bibir halamannya. udara berhembus sepoi khas aroma samudera, semilir angin bermain dengan anggukan lambaian nyiur yang berbatang rendah. Ada pohon Waru berdampingan dengan Ketapang berdaun rimbun tumbuh tegak di depannya, tempat anak-anak berteduh beralas pasir putih yang bersih.
Rumah itu tanpa pagar tak ada pembatas dengan alam, seolah menyambut dengan hangat siapapun yang datang. Silahkan duduk di terasnya, bersandar pada kursi dari kayu, menikmati lapangnya pemandangan. Jauh di timur sana dalam samar terlihat pucuk-pucuk gedung tinggi Makassar tampak menyeruak dari balik kabut lautan. pandang ke selatan lebih luas, lebih jauh lagi sampai menyentuh garis ufuk, pada garis di mana langit dan bumi berpelukan secara utuh sempurna tanpa celah. lalu-lalang nelayan pulang pergi melaut, ada anak-anak menurunkan hasil tangkapan ayah mereka, sumringah mengangkat ikan besar bergigi tajam, ia sebut ikan Tinumbu. Ada juga anak-anak kecil berlarian di jembatan menuju dermaga, bermain, melompat, lalu menghentak-hentak tali kail tanpa umpan.
Rumah itu jelas mengagumkan, dari jendela tak berkaca kita bisa menikmati semburat mega dari ufuk timur saat matahari baru menyingsing. Cahaya pagi berkilauan, menerpa tapi tak menyengat. Bila malam tiba terhampar langit bertabur cahaya gemintang, berjumlah ribuan dalam bilangan layaknya lampu-lampu menggantung tanpa tiang, menjadi hiasan menawan juga pandu bagi nelayan-nelayan yang tak punya pedoman.
Rumah itu lalu mengingatkan tentang perjalanan, tempat memulai pencarian hingga kembali mengakhiri apa yang telah dimulai itu. Tentang apa yang kita temui di luar sana, di tempat-tempat yang jauh, di negeri-negeri yang asing, di tanah dan celah yang terpencil, menantang bahaya, menjawab rasa penasaran, bertemu banyak orang, melihat ragam peradaban, lalu pulang merenungkan perjalanan itu, pergi lagi kemudian pulang lagi, di rumah itu.
Rumah memang selalu terhubung dengan perjalanan, karena ia selalu mengingatkan saat pulang, dan kita paham bahwa seluruh perjalanan kita sesungguhnya berjudul pulang, ingatlah bahwa sejauh manapun langkah telah menjejak, seluas apapun bumi telah dipijak pada akhirnya semua pasti bermuara pada jalan pulang ke rumah-Nya.
*Sebuah Rumah di Kodingareng, 16 Maret 2014
Label:
catatan perjalanan,
kapal simpatik,
portal infak,
Relawan,
renungan,
rumah
Relawan(?)
Kiranya tak salah bila ada yang beranggapan, bahwa pekerjaan-pekerjaan di ranah kemanusiaan memang serupa candu, ia mempunyai efek addiksi yang kuat. Sekali saja engkau terlibat di dalamnya, maka ia akan senantiasa membuatmu ingin mengulangnya, merasakan tantangannya, mananggung resikonya,dan menikmati lelah letihnya. Tanyakan saja pada kuli kemanusiaan itu. Mereka yang memilih jalan yang tak banyak dilalui orang. Tak menjanjikan materi, jauh dari keluarga dan orang-orang kecintaan, tak jarang meminta pengorbanan yang besar. Adakah mereka bosan, ataukah ingin berhenti. Engkau akan menemukan mereka dalam gelengan yang kuat, tegas mengatakan tidak.
Bahkan bila mereka sedang jeda yang panjang, mereka sebenarnya bukan mengambil jarak dari pekerjaan itu, selalu ada asa yang senantiasa dipelihara kuncup dalam perasaannya, bilamana waktunya tiba, kembali ia menuntaskan kerinduannya, mengambil bagian dalam rombongan orang-orang “aneh” yang bekerja dengan mewakafkan dirinya sebagai fajar bagi kehidupan orang lain.
Baginya bahagia itu sederhana, bila terbit binar dalam pantulan anak mata sesamanya, mereka telah puas. Dan itu telah cukup. Pembenar petuah lama para bestari bahwa bahagia adalah apa yang engkau rasakan ketika membuat sesama bahagia.
Dan bila engkau masih juga belum mengerti, tak perlulah diambil pusing, mereka juga bukanlah orang-orang yang penting, mereka hanya kumpulan orang-orang yang “aneh”. Mereka serius terinspirasi dari kalimat- kalimat ini:
“Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesama manusia”. (HR. Thabrani dan Daruquthni).
Dan katakanlah; “ Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu daan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghoib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan ( QS Attaubah 105).
**Ada orang-orang yang berangkat meninggalkan rumahnya, melepaskan kemapanan, bekerja dalam senyap, memilih jalan sepi dan tentu saja tanpa tendensi pragmatis, semata-mata untuk memberi manfaat bagi sesama dan mencari keridhoan Tuhannya. Merekalah para relawan, dan kita paham bahwa tak ada relawan yang menagih kompensasi!
Kamis, 23 Januari 2014
Catatan Perjalanan; Pulau Kecil di Timur Jauh
Akhir tahun tepat ketika Desember hampir selesai menanggalkan semua hari-harinya, menyisakan penghujungnya saja yang beberapa , cuaca kota Sorong sangat bersahabat, langit biru cerah, awan-awan berarak ringan bersama angin yang membawanya dengan begitu tenang. Kali ini hujan tak datang berderai-derai , tak seperti lazimnya Desember yang selalu basah. Musim yang sumringah, ya, tentu saja ini membuat kami tambah bersemangat memenuhi sebuah undangan dari kawan-kawan CI (Conservation International) Indonesia, sebuah lembaga konservasi yang keras kepala menjaga dan memelihara ekosistem dan sumber daya alam hayati perairan di Raja Ampat dan tak lupa melakukan pembinaan masyarakat pesisir. Mereka mengajak untuk melakukan perjalanan ke Kepulauan Ayau, dalam sebuah perhelatan budaya tahunan masyarakat setempat merayakan Natal dan Tahun Baru. Sebenarnya undangan ini adalah dalam kapasitas sebagai tim medis untuk memberikan pelayanan kesehatan ke masyarakat Pulau terluar Nusantara tersebut, tapi lebih dari itu, bagi kami hal ini tentu saja menjadi momen liburan dan petualangan menantang akhir tahun.
Sekiranya kita membuka peta Nusantara,di ujung timur, celah antara kepulauan Maluku Utara dan tanah hijau Papua maka terdapatlah kepulauan Ayau ini tampak sebagai gambar bulatan atau justru sekedar noktah kecil di perairan bagian utara kepala burung Papua. Faktanya kepulauan ini memang hanyalah gugus pulau kecil yang tampak terapung-apung di bibir samudera Pasifik, sejenak saja berjalan sedikit lagi ke arah utara maka sampailah kita di negara tetangga Republik Palau di kawasan Pasifik.
Dengan speed boat yang diawaki motoris dari CI, bergabung juga bersama kami dua peneliti berambut jagung, sepasang anak muda dari Amerika, mereka mempunyai minat yang tinggi terhadap kehidupan orang-orang pesisir, terkagum-kagum dengan Indonesia yang kemudian membawa mereka tiba di nusantara, lalu ‘tersesat’ di Raja Ampat menekuni pengamatannya di sini. Bersama mereka rombongan berangkat bergerak membelah perairan Raja Ampat. Perjalanan ini sungguh menakjubkan, dari tepiannya, laut masih tampak begitu bersahaja dengan riak-riak bermain di atas permadani biru yang lembut, namun semakin jauh berjalan semakin hebat arus laut menderas, gelombang bergulung seperti bukit yang bersusul-susulan, ombak diikuti ombak, setelah ombak masih ada ombak, lalu di baliknya menggulung ombak lagi. Boat melayang di puncak gelombang lalu terhempas di dasarnya lalu bersiap pada gulungan selanjutnya, keadaan ini sungguh mendebarkan dan menguras adrenalin dan tentu saja berhasil mengaduk-aduk isi rongga perut.
Walaupun mendebarkan, ketegangan perjalanan ini tetap saja masih mengalah dari daya pukau yang tersuguhkan, bukan Raja Ampat namanya bila tak mempesona. Pasir putih dan pulau sunyi sebuah harmoni dengan nuansa misterius, memukau dengan segala kemungkinan. Lumba-lumba yang mengiring mendekat-dekat di samping kiri-kanan boat dalam jumlah puluhan bahkan mungkin sampai ratusan, bermain dan berlompatan seperti rombongan pasukan karnaval yang riuh, parade ikan-ikan terbang yang bermanuver rendah diatas permukaan air adalah pemandangan seru yang lain. Ini seperti perjalanan kedunia fantasi memasuki dunia lain yang asing, seperti khayalan tapi ini benar-benar nyata.
Beberapa jam perjalanan ketegangan belum juga selesai, di tengah semudera yang luas, di tengah biru yang tak bertepi, GPS tak berfungsi, tak ada pertanda, tak ada pulau yang menjadi titik acu, kami benar-benar seperti buih yang terombang-ambing ditengah semesta biru kehilangan arah. Benar-benar biru, hanya biru di mana-mana. Di depan biru, di belakang juga biru, menghadap ke atas langit biru tak ada batas, menengok kebawah air laut hanya biru yang mencekam. Tuhan memang melukis semesta dengan warna biru yang banyak. Sementara kami tak piawai menetukan arah dengan membaca pergerakan hembusan angin, tak bisa menarik pedoman dari tabiat arus laut bulan desember, kami telah tersesat di sahara biru.
Resikonya besar, salah sedikit saja menentukan arah kami bisa terdampar ke perairan Filipina, bertemu dengan patroli laut, ditangkap, diinterogasi lalu dideportasi layaknya pendatang haram setelah sebelumnya semua harta benda dibumihanguskan. Atau malah terseret ke arah yang lain, terapung-apung di pedalaman samudera yang sunyi, kemudian kehabisan bahan bakar, lalu kehabisan logistik, hilang ditelan kabut Pasifik, samudera dengan legenda yang membekukan semua nyali.
Beruntung saat-saat dramatis itu tak berlangsung lama, ketika kemudian kami melihat sebuah perahu besar berwarna hijau melepas jangkar di kejauhan, perlahan kami mendekat semakin merapat, yang rupanya mereka adalah nelayan asal Filiphina yang sedang bersenang-senang dengan santainya memunguti harta karun laut kita , kami menemukan kenyataan betapa masih lemahnya kedaulatan maritim negeri ini. Kawan dari CI kemudian mencoba menasihati tapi tak bisa berbuat banyak, mereka menang jumlah, lagi pula kami jelas butuh mereka, butuh petunjuk arah pulau yang kami tuju.
Mendekati pulau, laut tak lagi biru, adalah hijau yang jernih dengan rumput laut yang bergoyang-goyang dan karang-karang yang terhampar, boat melaju perlahan diatas reef yang luas, seolah kami bisa menjangkau saja dasar laut yang putih. Pasir putih yang halus, membentang seperti rentangan panjang yang hangat menyambut kami, juga nyiur yang berbaris rapi di sisi timur tak berhenti melambai seolah-olah menyapa kami. inilah Ayau, pulau indah di sisi terluar nusantara.
Pulau ini mungil saja, anda takkan kelelahan berjalan menemukan ujungnya dari sisi yang lainnya, paginya bisa menikmati matahari yang menguncup dari samudera, sorenya boleh mengagumi senja yang memerah, matahari tergelincir di kaki langit. Tapi cerita pulau ini bukan hanya tentang keindahan yang tak selesai-selasai, tapi juga tentang orang-orang yang menarik, juga budaya yang unik. Orang-orang di sini lebih senang beralas pasir, tidur dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga di atas pasir, rumah-rumah tanpa alas hanya pasir, anak-anak hingga dewasa menyukai pasir, mereka tak membutuhkan permadani yang empuk apalagi yang mahal-mahal, seluruh pulaunya adalah pasir, mereka tak perlu tergoda atas selainnya. Mereka menikmati hidup dengan cara-cara yang sangat sederhana, berbahagia dengan jalan yang bersahaja.
Dan tepat pada hari yang telah ditentukan, hari karnaval budaya, berbondong-bondonglah kelompok masyarakat datang dari pulau-pulau sekitar, rombongan datang dengan antraksi masing-masing, suara tifa, rebana, seruling dan terompet bersahut- sahutan, setiap kelompok menunjukkan kehebatan timnya berpawai, tak kurang dari 24 jam tak ada jeda keriuhan membahana, siang hingga malam hingga siang lagi tak berhenti, mereka meluapkan semangat seperti karasukan, berjalan, melompat, berputar-putar dalam kegaduhan alat musik tradisional, setiap satu kelompok istirahat diganti oleh kelompok yang lain, hari itu pulau tak bisa tidur walau sejenak. Inilah pesta mereka mungkin untuk membayar sunyi sepanjang tahun di pulau mereka yang terpencil, sungguh-sungguh terpencil.
Akhirnya kami tahu ini sungguh perjalanan yang mengagumkan, bukan saja tentang petualangan-petualangan menggoda tantangan, atau suguhan panorama yang menakjubkan, tapi juga perjalanan budaya membaca keragaman manusia, kebiasaan serta juga kearifan. Dan berharap ini juga adalah perjalanan ruhiyah, sebagai laku transendensi, menyimak kebesaran-Nya, menjernihkan kesadaran dan menemukan lagi seribu alasan untuk bersyukur. Semoga.
Kamis, 26 Desember 2013
Serial Catatan Perjalanan; Mesjid yang Sendiri
Di sebuah camp pengungsi dekat Lokh Nga, kami tinggal dalam satu tenda bersama seorang Bapak, istri dan kedua orang anaknya. Tenda kami cukup luas untuk ditinggali bersama-sama. Biasanya saat makan bersama sang bapak atau istrinya bercerita tentang kejadian pagi itu, ketika gempa lalu tsunami yang dahsyat itu terjadi.
Suatu pagi mereka mengajak kami ke lokasi bekas rumahnya dulu berdiri, sambil mencari-cari kalau-kalau bisa menemukan jazad anaknya yang hilang, berharap ada diantara reruntuhan puing-puing yang tersisa. Kami berangkat pagi-pagi naik sepeda ontel yang dipinjamkan sang bapak, menuju kampung Lampuuk dekat pantai Lokh nga.
Matahari sudah beranjak naik saat kami tiba di pantai, kami di suguhi dengan pemandangan yang menggetarkan, membayangkan kalau dulunya tempat ini adalah kawasan yang indah, ramai dan sibuk, tapi hari itu laut hanya sepi, ombak yang mendebur di pasir pantai yang putih seolah nyanyian yang pilu, angin berhembus membelai-belai sisa batang pinus yang patah berserak, niyur yang terpekur besujud menghadap ke barat, bangunan-bangunan yang roboh menyerah kalah rata memeluk tanah. Sesekali anjing-anjing berlarian diantara gundukan tanah dan batu melolong ataukah mungkin sedang menangis pilu, entahlah, kami juga tak tahu. Kami Seperti sedang berdiri di tengah kuburan yang luas, terasa sepi meski sesungguhnya tidak.
Pagi itu melihat dahsyatnya akibat dari tsunami, sesungguhnya cukup membuat hati bergetar, tak ada yang tersisa kecuali yang izinkan oleh Allah, semua tersungkur; tiang-tiang, pohon, menara, rumah, kantor, jembatan atau apa pun. Tak ada yang tak bersujud kecuali yang Allah pilih untuk tetap tegak. Adalah sebuah mesjid di tengah reruntuhan terlihat di kejauhan, sendiri dan tetap tegak.
Di Kampung ini tak satu pun bangunan yang bertahan untuk tetap tegak kecuali mesjid ini sendiri. Sepanjang mata memandang kami tak mengerti bagaimana tsunami itu bekerja membuat semua bangunan lain menjadi rata seperti remah-remah berserakan, atap dan dinding bangunan terlepas menyisakan pondasi sebagai jejak. Seorang kawan segera bersujud di lantainya yang masih berpasir begitu memasuki ruangnya. Saya hanya bertasbih mengulang-ulang nama Allah di sini memperhatikan pilar dan dindingnya yang tetap kokoh, hanya ada sedikit bagian yang retak dan terbuka.
Kami kemudian menyempatkan naik ke atap mesjid, berdiri dekat kubahnya yang megah. Melihat sekeliling dari atas walau sesungguhnya kami sedang menyaksikan kengerian yang hebat. Bangunan ini betul-betul sendiri, seolah memang sengaja disisakan agar menjadi berita dan pelajaran, beginilah titah Tuhan bekerja, cukup baginya “Kun” maka Fayakun (“Jadilah” maka jadilah ia).
Lembah ini pasca tsunami benar-benar menjadi lembah yang sepi, hanya tersisa sebuah bangunan yang tegak sendiri. Sebuah tempat untuk bersujud…kepada-Nya.
“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (Al qur`an Surah As-Sajdah : 15)
Mengenang 9 Tahun Tsunami Aceh, 26 Desember 2013
Label:
aceh,
catatan perjalanan,
lokh nga,
Mesjid
Serial Catatan Perjalanan: Mesjid Tua Wapauwe
Bagi yang pernah ke Ambon tentu tak ingin meyangkal tentang sentuhan surga di tanah ini, paduan pantai yang indah dan perbukitan yang ditumbuhi rempah-rempah adalah sebagaian daya tarik yang selalu dikagumi. Dalam catatan sebelumnya telah saya ceritakan tentang keindahan jazirah ini, tentang pantai yang berpagar nyiur, pasir putih dan ombak yang tak berhenti berkejaran lalu kontras perbukitan di sisi yang lain, juga pesona budayanya. Satu lagi yang ingin saya tambahkan tentang sebuah mesjid tua yang bertutur tentang sejarah panjang Islam di Nusantara.
Berjalan ke arah utara lebih kurang satu jam perjalanan dari kota Ambon, kita akan menjejak jazirah Leihitu, negeri para raja dan kapitan.Pada sebuah kegiatan pelayanan kesehatan di negeri Hila, Leuihitu, bersama kawan-kawan dari RS Al Fatah Ambon, mereka mengajak saya untuk menyempatkan melihat sebuah situs bersejarah, sebuah mesjid tertua di Nusantara.
Tertegun melihat mesjid tua itu saat pertama kali, adalah Mesjid Tua Wapauwe atau Mesjid Tua Hila orang menyebutnya, mesjid sederhana yang masih mempertahankan bentuk aslinya sejak di bangun pada tahun 1414 silam. Sangat sederhana dengan atap ayaman daun rumbia dengan dinding dari pelepah sagu yang telah dikeringkan. Tak ada satu pun paku melainkan menggunakan sasak kayu untuk menghubungkan antar bagian bangunannya. Merinding rasanya saat masuk kedalam biliknya, kain putih serupa kafan tergantung mengelilingi ruangan, dengan bendera tegak di sisi mimbar khatib. Saya menyempatkan shalat ashar di sini, di mesjid yang menjadi saksi jejak Islam yang telah begitu tua di Nusantara. Mesjid yang telah berdiri bahkan jauh sebelum Muhammad Al Fatih membebaskan Konstantinopel yang menjadi pintu masuknya Islam ke Eropa pada tahun 1453.
Di dalam mesjid masih tersimpan dengan rapi perkakas atau bagian-bagian mesjid awal yang telah diganti, juga terdapat mushaf Al Quran yang berusia ratusan tahun bertulis tangan. Satu hal yang unik bahwa sebenarnya lokasi mesjid tua yang sekarang bukanlah lokasi mesjid tua saat pertama didirikan, tapi dari penuturan beberapa orang yang saya dengar bahwa dulu sekali pada suatu pagi, tiba-tiba orang-orang menemukan mesjid ini telah berpindah secara gaib dari tempat semula ke tempat sekarang tanpa di ketahui bagaimana prosesnya berpindah. Wallahu alam.
Label:
ambon,
catatan perjalanan,
Klinik MER-C,
mesjid tertua
Serial Catatan Perjalanan; Shalat Jumat di Fafanlap
Pertengahan desember waktu itu, pagi-pagi seperti biasanya kami sudah meninggalkan base camp, melanjutkan kegiatan dalam sebuah ekspedisi di Raja Ampat, hari itu adalah hari ke lima memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat pulau-pulau yang tersebar di kawasan Misol. Adalah Fafanlap menjadi target kami pada hari itu. Setelah melewati perjalanan laut yang mengagumkan, menikmati ombak yang bersahabat, karang dan pulau-pulau sepi tak bertuan akhirnya kami tiba juga di tujuan.
Bersiap-siap dan tak berapa lama kemudian warga-warga mulai banyak berdatangan, satu persatu keluhan-keluhan pasien kami layani. Menjelang siang semua telah tuntas. Karena hari itu adalah hari jumat maka segera kami berkemas untuk ke mesjid satu-satunya di pulau itu. Meskipun di sini termasuk wilayah Papua namun pengaruh budaya Ternate dan Tidore lebih dominan itulah sebab orang-orang di sini adalah mayoritas muslim.
Inilah pengalaman shalat Jumat yang unik dan belum pernah saya temui di mesjid-mesjid yang telah saya datangi di nusantara. Setelah tongkat khatib diberikan- ini juga kekhasan khutbah di wilayah timur nusantara, para khatib berdiri dengan tongkat di tangan kanannya- maka khatib membuka sebuah lembar manuskrip berlafaz arab, yang kemudian ia baca sebagai isi khutbah. Ia membuka khutbah sebagaimana lazimnya para khatib dengan kalimat-kalimat berbahasa arab, beberapa menit menunggu saya menduga cukup panjang juga pembukaan khutbah sang kahtib, sepuluh menit sampai lima belas menit barjalan sang khatib terus saja membaca kutbahnya dengan bahasa arab, sampai saya berpikir berapa lama durasi khutbah di tempat ini bila muqaddimahnya saja panjang demikian.
Namun tak berapa lama kemudian khutbah selesai. Di tutup dengan tanpa satu pun kata bahasa indonesia atau bahasa daerah yang digunakan. Rupanya seluruh isi khutbah adalah bahasa arab, dan saya sukses mengikuti kutbah tanpa mengerti apa isinya sama sekali. Fakta bahwa di sini bukan negeri Arab, tapi nun jauh di timur, sebuah pulau kecil diantara ribuan pulau-pulau yang berserak, dan orang-orang di seru dengan bahasa yang tak mereka mengerti. Khutbah menjadi sekedar ritual dan seremoni yang kehilangan esensi, gagal menjadi media dan instrumen pencerahan. Khutbah selesai lalu shalat Jumat selesai tapi saya pulang dengan rasa penasaran yang tak selesai. Khutbah yang aneh.
Label:
MER-C,
Mobile klinik,
Raja Ampat
Pahlawan Vs Sok Pahlawan
Dulu di kelas-kelas kecil kami, banyak tergantung gambar dan foto-foto para pejuang, mereka yang telah dengan segenap tenaga, pikiran, masa, bahkan darahnya telah ia persembahkan demi tanah air dan keyakinannya. Menatapnya adalah seperti menemukan kesungguhan yang terpahat dari keras wajahnya, pias dan sorot matanya adalah sedih yang dalam sekaligus ketulusan dan harapannya yang tinggi, seolah ia siap menanggung sendiri nestapa bangsanya, sebagian atau bahkan keseluruhannya. Melihat gambarnya saja kami tahu mereka adalah orang-orang yang punya kegigihan dan keberanian yang tak terbatalkan. Tak suka berpura-pura apalagi cari muka. Guru kami mengajarkan untuk menyebut mereka dengan sebutan Pahlawan.
Seingat kami hampir-hampir tak pernah ada wajah pahlawan yang pernah tergantung di kelas-kelas kecil kami itu yang wajahnya berlukis senyum. Tentu mereka bukan orang-orang yang tak lembut hatinya atau tak indah perangainya, juga bukan karena mereka telah lupa bagaimana cara tersenyum. Tak lain pancaran wajah itu adalah indikasi kesungguhan yang dalam dan luka yang perih, betapa ia juga ingin duduk damai namun lebih memilih mengindahkan suara nuraninya untuk turut memikul tanggung jawab yang tak ringan itu dengan raga dan jiwanya. Dan tak ada slogan yang jumawa melengkapi gambar-gambar pahlawan itu sebab karya dan perbuatan mereka lebih nyata dari seribu kata-kata.
Itulah mereka yang gambarnya tergantung di kelas-kelas kecil kami, lalu guru kami memperkenalkan mereka sebagai Pahlawan bangsa yang asli. Lalu mari kita tengok gambar-gambar yang berceceran di setiap sudut kota hari ini, sepanjang jalan, mulut –mulut gang sampai tergantung di batang-batang pohon, banyak wajah-wajah asing yang tiba-tiba memperkenalkan diri sebagai sebagai sosok yang bersih, pembela dan penyambung aspirasi, menisbatkan diri sebagi yang paling pantas lengkap dengan kalimat jumawa menebar janji-janji. Mengeluarkan uang yang tak sedikit mengumbar gambar dengan senyum termanis penuh tipu daya. Tapi mereka akan kecewa sebab kami tak mau tertipu dengan para pembual yang berlagak sok pahlawan.
Dulu seorang tua pernah menggambarkan pahlawan itu," Pergi pulangnya, tutur bahasanya, sungguh-guraunya, tak melampaui garis batas medan juang yang ia siapkan dirinya untuk itu.... Nampak jelas pada kerut-raut wajanya, dalam kilat matanya dan terdengar pada luncuran tutur lisannya, segala indikasi kesungguhan yang lekat dan duka yang dalam, berkobar dalam hatinya serta azzam yang sungguh, semangat yang tinggi serta semangat yang jauh kedepan, sebagai luapan jiwanya".(Alm. ust Rahmat Abdullah). Maka bolehlah bila juga ada yang barkata pada mereka yang sok pahlawan itu “ janji mereka para penipu hanyalah awal dari kerusakan yang akan mereka benihkan, mereka takkan pernah peduli akan perih kaum yang tersisih, visi mereka adalah materi demi membuncitkan perut sendiri. Sorot matanya, tutur lisannya hanyalah pemanis dari bualan untuk mewujudkan misi bejatnya, mereka hanyalah penipu yang pantas digantung lalu ditembak mati ditengah lapangan kota”.
Pahlawan itu ikhlas mengorbankan dirinya untuk kemaslahatan orang banyak. Tapi mereka yang sok pahlawan hanyalah psikopat yang berpura-pura sebagai juru selamat tapi punya kebiasaan mengorbankan orang banyak untuk kesenangan dirinya semata. Maka nyatalah bedanya.
Sejatinya Kemalangan
Nak, telahkah sampai kepadamu kabar tentang orang-orang yang kalah, yaitu mereka yang memutuskan mati meski raganya tetap saja bernafas, berdiri dan masih juga berjalan. Angkat untuknya takbir empat kali sebagai pesan wafatnya iman.
Menyerah kemudian meratapi kekalahan adalah sebuah ketidaknyamanan hidup. Kegelisahan, keterpakuan.Sepi dan hampa adalah warna yang hadir dominan melukis keseharian dengan sentuhan yang tegas. Tak ada kebebasan di sana, kebebasan untuk menikmati, bergembira, bahkan untuk bernafas lega, karena semua telah terpenjara dalam kejatuhan yang menghina. Semangat seolah merunduk malu-malu, tak mampu mangangkat muka. Juga ada kesempitan di sana, seolah bumi ini tak luas lagi adanya, seperti dada ini terhimpit rasanya, seakan udara ini telah habis sisanya.
Menyerah lalu berhenti adalah penghianatan, pada mimpi yang telah terbangun, pada rencana yang tertata rapi, pada semangat juang, pada keyakinan sendiri. Bahkan juga pada orang-orang di sekililing kita, mereka orang-orang tercinta yang mempercayakan kebanggaannya, atau pada rekan dan sejawat yang menyandarkan kekagumannya, pada semua potensi kebaikan yang Allah anugerahkan pada diri.
Menyerah pada kekalahan adalah pertanda rebahnya iman dan jatuhnya izzah. Sebuah kenyataan yang membentang jarak dari kemenangan. Semakin jauh ia menyerah semakin dekat iman bagi kematiannya.
Duhai nak, engkau tahu bahwa kalah itu bila engkau membiarkan harapanmu senja mendahului nafasmu. Itulah sejatinya kemalangan.
Suppa, 28 Februari 2013
Selasa, 05 Februari 2013
Buat Apa Bermaulid 2
Bulan maulid di negeri kita tak jauh berbeda dengan agustusan, bulan kita memperingati kemerdekaan, di kampung-kampung ramai orang-orang merayakan, anak-anak hingga lansia turut dalam kenduri yang tumpah ruah, pejabat negara tingkat elit hingga birokrat level desa pun turut serta, kantor-kantor, sekolah-sekolah, terutama masjid-mesjid berlomba-lomba tak ingin ketinggalan.
Perayaan ini memang tak sembarangan, tak sering mesjid penuh sesak oleh jamaah kecuali dalam beberapa kesempatan, hanya pada saat ramadhan, lebaran, juga saat maulidan. Ramai orang membawa makanan, telur yang dihiasi bebungaan, tak ada yang meminta untuk itu, tak ada syariat yang menganjurkan, tapi seperti keharusan, tak afdol rasanya bila para ibu tidak mengambil bagian.
Ada sebuah kampung kecil di ujung timur Sulawesi Tengah, yang merayakan maulid dengan begitu sumringah, layaknya lebaran yang ketiga. Makanan dibuat berlimpah, pintu rumah-rumah terbuka seharian, tamu-tamu berdatangan keluar masuk berziarah menyantap maknanan manis hingga yang beraroma rempah-rempah. Saat pulang engkau boleh pula membawa buah tangan.
Ada juga kawan yang setiap tahun hukumnya wajib pulang kampung merayakan maulid, konon setiap maulid di kampungnya dihadiri pejabat tingkat gubernur sampai menteri, tak pulang baginya adalah aib bagi keluarga. Pulang merayakan maulid Nabi dalam ritual yang aneh dan tak pernah dianjurkan oleh Sang Nabi.
Tahun lalu turut diundang juga menghadiri perayaan maulid pada sebuah mesjid, datang telat tapi dipaksa-paksa duduk di depan, mendengarkan ceramah sebentar, saat pulang dapat oleh-oleh satu paket telur, ayam dan teman-temanya, dan ini yang paling seru.
Bulan Maulid memang banyak miripnya dengan bulan perayaan kemerdekaan, tentang seremoni dan ritual tahunan, beramai-ramai, bergembira, seasaat lalu usai. Hingar-bingar tapi miskin pemaknaan. Para jamaah yang datang lebih mementingkan rebutan telur daripada mendengar takzim hikmah maulid dibawakan. Katanya biar dapat berkah, entah berkah dari mana.
Kita memang suka latah, tanpa mengerti sejatinya perbuatan, yang penting latah. Entah kapan kebiasaan ini bermula, beramai-ramai merayakan kelahiran Nabi yang mulia layaknya pengikut agama yang lain merayakan hari lahir tuhan mereka. Pernahkah kita menemukan dalam sunnah atau dalam kitab-kitab rujukan yang sahih ada anjuran Nabi untuk bermaulid? Seandainya ritual ini adalah hal yang utama dan mulia maka kita tak pernah bisa mendahului para sahabat yang dipuji Allah dan generasi terbaik setelahnya dalam merayakan maulid ini. Tapi kenyataannya mereka tak pernah memulainya.
Bila sejatinya maulid ini adalah momentum untuk mengenang Nabi, memperbaharui kencintaan terhadap beliau, maka sesungguhnya agama ini telah sempurna, tak layak dikurangi dan butuh lagi ditambah-tambah, cukuplah apa yang telah ditunjukkan oleh orang-orang yang mencintai Nabi dengan seluruh yang ada pada dirinya.
Sejatinya pengikut Nabi yang baik tak membutuhkan satu hari atau beberapa hari untuk mengenang dan memuliakan beliau, lalu kemudian alfa dihari-hari yang lainnya. Sebab mereka telah menghabiskan waktunya, harinya secara kesuluruhan, dalam mencintai Nabi dengan perasaan, pikiran dan perilakunya. Bila ada yang berkata bahwa maulid itu adalah wujud cinta kepada Nabi, maka setiap hari mereka adalah maulid.
Salam dan sholawat semoga tercurah kepada junjungan yang mulia Muhammad S.A.W.
Suppa, Februari 2013
Kamis, 02 Juni 2011
Belajarlah Nak
Keluarlah belajar nak
Ke tempat-tempat menimba kesadaran
Di alam, di jalan, perpustakaan dan halaqoh-halaqoh tempat khasanah pengetahuan bertebaran
Berangkatlah belajar nak
Pada guru dan pada lezatnya pengalaman
Yang mengajarkan kebajikan dan kearifan
Mengenalkan pada diri serta arah tujuan
Sungguh aku khawatir nak
Bila engkau semata hanya duduk manis di ruang persegi ukuran empat kali delapan
Mendengarkan ceramah kurikulum yang sebagiannya adalah tipuan
Engkau akan hanya berlomba-lomba menjadi pintar dalam takaran bilangan
Delapan adalah pintar, Sembilan luar biasa pintar dan sepuluh adalah kemenangan
Tapi engkau tak peduli segala cara untuk mendapatkan
Siapa lagi yang peduli, bila banyak wali ilmu di sana juga akhlaknya memalukan
Agar engkau lulus ujian ia bersedia membocorkan kunci jawaban, bukan?
Beranjaklah belajar nak
Ke tempat-tempat menimba kesadaran
Di alam, di jalan, perpustakaan dan halaqoh-halaqoh tempat khasanah pengetahuan bertebaran
Ilmu bukanlah hiasan juga kebanggaan
Ia hanyalah jalan untuk memelihara kehidupan, memuliakan kemanusiaan
dan membesarkan pengabdian.-n
*Bekal untuk si kecilku (memperingati hardiknas)
Pinrang, 20.42. 03 Mei 2011
Ke tempat-tempat menimba kesadaran
Di alam, di jalan, perpustakaan dan halaqoh-halaqoh tempat khasanah pengetahuan bertebaran
Berangkatlah belajar nak
Pada guru dan pada lezatnya pengalaman
Yang mengajarkan kebajikan dan kearifan
Mengenalkan pada diri serta arah tujuan
Sungguh aku khawatir nak
Bila engkau semata hanya duduk manis di ruang persegi ukuran empat kali delapan
Mendengarkan ceramah kurikulum yang sebagiannya adalah tipuan
Engkau akan hanya berlomba-lomba menjadi pintar dalam takaran bilangan
Delapan adalah pintar, Sembilan luar biasa pintar dan sepuluh adalah kemenangan
Tapi engkau tak peduli segala cara untuk mendapatkan
Siapa lagi yang peduli, bila banyak wali ilmu di sana juga akhlaknya memalukan
Agar engkau lulus ujian ia bersedia membocorkan kunci jawaban, bukan?
Beranjaklah belajar nak
Ke tempat-tempat menimba kesadaran
Di alam, di jalan, perpustakaan dan halaqoh-halaqoh tempat khasanah pengetahuan bertebaran
Ilmu bukanlah hiasan juga kebanggaan
Ia hanyalah jalan untuk memelihara kehidupan, memuliakan kemanusiaan
dan membesarkan pengabdian.-n
*Bekal untuk si kecilku (memperingati hardiknas)
Pinrang, 20.42. 03 Mei 2011
Label:
catatan perjalanan,
nasihat ayah,
pinrang
Serial Catatan Perjalanan; Bunta...Sampai Jumpa Lagi
Sahabat…ada yang berkata bahwa pertemuan adalah rahasia Tuhan, bila demikian, sesungguhnya pertemuan itu tak lain adalah takdir, dan tidaklah Tuhan berkehendak dengan sebuah takdirNya kecuali dengan suatu alasan, alasan yang pastinya baik.
Demikian juga pertemuan ini, lebih dari setahun yang lalu, waktu yang belum lagi terlalu panjang, namun satu persatu kutemukan alasan-alasan dari takdir itu yang telah membawaku ke tempat ini. Adalah pertemuan-pertemuan baru, tentang orang-orang, adat dan kebiasaan, keindahan alam, kegembiraan-kegembiraan serta pemaknaan. Semuanya adalah mata pelajaran kehidupan yang mencerahkan.
Teringat saat tiba pada kali yang pertama, datang membawa diri tanpa sahabat atau seorang sanak saudara. Namun kehangatan sahabat semua, yang membuat seolah tiba-tiba saja aku telah menjadi bagian dari sebuah rumpun keluarga yang begitu damai dan menyenangkan. Sebuah penerimaan tanpa syarat.
Maka tak mungkin saya beranjak berlalu, tanpa mengharuskan diri untuk membesarkan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada sahabat semua: kepada dr Agussalim; pimpinan sekaligus sejawat yang banyak memberikan bantuan dan bimbingan. dr. Astuti H Toban; Meski belum lama bersama-sama telah banyak berbagi cerita dan pengalaman. drg. Dian Afriani, seorang kawan yang baik, semoga kelahiran si kecil berjalan lancar, titip salam buat paitua. Dr. Viermont Pakaya; sampai jumpa lagi dok. Para senior, Pak Saiful, Bu hayati, Ses Mimi, Ses Yul, Pak syahrir, Pak Amir, Bu Nuning; terimaksih telah berbagi pengalaman dan kearifan. Pak Ma`ruf; kapan kita bisa sama-sama mengail lagi?, kawan-kawan yang muda-muda dan energik, panjang untuk menyebutnya satu-satu; semuanya adalah sahabat yang luar biasa, terimakasih atas segala bantuan dan kerjasamanya, kalau ada KLL tak usah dipanggil lagi ya...terkhusus kepada Pak Udin dan Ibu Azura; Semoga Allah membalas segala kebaikannya, saya tak kehilangan sosok orang tua selama di Bunta. Juga para tetangga yang baik hati, Ustad, dan sepuh, kawan-kawan semua yang bayak memberikan perhatian dan pengayoman di tempat ini.
Demikian juga permohonan maaf yang sedalam-dalamnya, atas segala khilaf, dari lisan dan perbuatan, senyum yang tak tulus atau mungkin ada suara yang meninggi, mohon di ikhlaskan, sungguh tak ada maksud berbuat demikian.
Sahabat…Bagaimana menurutmu bila sebuah pohon yang telah tumbuh menjadi besar, akarnya menghujam dan menjalar, pokok dan dahannya telah beranjak kuat, lalu tiba-tiba harus dicabut dari tempatnya berdiri. Maka selembut apapun kita mengangkatnya akan ada tanah yang tebongkar dan ada akar yang akan putus. Demikian juga yang ada dalam perasaan, ketika hendak beranjak, ada luka yang hampir-hampir membuatku menangis atau bahkan sudah menangis.
Sungguh tak mungkin terlupakan saat-saat di Bunta, tentang pemandangan yang indah di dermaga yang tenang, menjelang sore menunggu senja turun, tempat mengobati kerinduan bila ia datang. Tentang nyiur-nyiur yang tak pernah selesai ku kagumi, kampung Bajo yang unik, yang selalu saja sibuk, dengan anak-anak kecil berlarian dan musik etnis yang diputar keras-keras. Juga pesta-pesta kecil di Puskesmas, milu siram, onyop, sinole dan ikan bakar, kebersamaan yang indah. Semuanya adalah kenangan yang akan lekat menyertai perjalanan selanjutnya.
Terakhir, kumohon doa dari sahabat semua, semoga persinggahan berikutnya tetap saja indah. Untuk sahabat , jangan lelah bekerja dan menyempurnakan pengabdian. Lanjutkan… Salam.
Bunta, 21 Februari 2011.
- Ucapan terimakasih kepada Ayahanda dr. Haryadi dan Ibu, yang telah memberikan banyak sekali bantuan dan bimbingan selama bertugas di Banggai. Semoga Allah merahmati selalu.
- Terimaksih kepada dr. Yusran dan Bunda
- Terimaksih kepada Kawan-kawan Dinas Kesehatan Kab. Banggai; Pak Ramli, dr. Wayan.dr. Hari. dr Sulastri, pak Mulyawan, Pak Anwar, Bu Sadarni, Pak Indra, Pak Im, Pak Haris, dan kawan semua atas segala bantuannya.
- Terimaksih kepada rekan Puskesmas Balantak; dr. Zulhan, Pak Urip, Pak Hendra, Pak Haerul, pak Atu, Pak Faisal, Onal, dan kawan semua. Atas segala bantuan dan kehangatannya.
- Terimaksih kepada rekan Puskesmas Teku; Bu Ratna, vera, Nur, Lala. Hari-hari di sana sangat menyenangkan, jangan lelah dan terus bekerja. Salam.
Demikian juga pertemuan ini, lebih dari setahun yang lalu, waktu yang belum lagi terlalu panjang, namun satu persatu kutemukan alasan-alasan dari takdir itu yang telah membawaku ke tempat ini. Adalah pertemuan-pertemuan baru, tentang orang-orang, adat dan kebiasaan, keindahan alam, kegembiraan-kegembiraan serta pemaknaan. Semuanya adalah mata pelajaran kehidupan yang mencerahkan.
Teringat saat tiba pada kali yang pertama, datang membawa diri tanpa sahabat atau seorang sanak saudara. Namun kehangatan sahabat semua, yang membuat seolah tiba-tiba saja aku telah menjadi bagian dari sebuah rumpun keluarga yang begitu damai dan menyenangkan. Sebuah penerimaan tanpa syarat.
Maka tak mungkin saya beranjak berlalu, tanpa mengharuskan diri untuk membesarkan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada sahabat semua: kepada dr Agussalim; pimpinan sekaligus sejawat yang banyak memberikan bantuan dan bimbingan. dr. Astuti H Toban; Meski belum lama bersama-sama telah banyak berbagi cerita dan pengalaman. drg. Dian Afriani, seorang kawan yang baik, semoga kelahiran si kecil berjalan lancar, titip salam buat paitua. Dr. Viermont Pakaya; sampai jumpa lagi dok. Para senior, Pak Saiful, Bu hayati, Ses Mimi, Ses Yul, Pak syahrir, Pak Amir, Bu Nuning; terimaksih telah berbagi pengalaman dan kearifan. Pak Ma`ruf; kapan kita bisa sama-sama mengail lagi?, kawan-kawan yang muda-muda dan energik, panjang untuk menyebutnya satu-satu; semuanya adalah sahabat yang luar biasa, terimakasih atas segala bantuan dan kerjasamanya, kalau ada KLL tak usah dipanggil lagi ya...terkhusus kepada Pak Udin dan Ibu Azura; Semoga Allah membalas segala kebaikannya, saya tak kehilangan sosok orang tua selama di Bunta. Juga para tetangga yang baik hati, Ustad, dan sepuh, kawan-kawan semua yang bayak memberikan perhatian dan pengayoman di tempat ini.
Demikian juga permohonan maaf yang sedalam-dalamnya, atas segala khilaf, dari lisan dan perbuatan, senyum yang tak tulus atau mungkin ada suara yang meninggi, mohon di ikhlaskan, sungguh tak ada maksud berbuat demikian.
Sahabat…Bagaimana menurutmu bila sebuah pohon yang telah tumbuh menjadi besar, akarnya menghujam dan menjalar, pokok dan dahannya telah beranjak kuat, lalu tiba-tiba harus dicabut dari tempatnya berdiri. Maka selembut apapun kita mengangkatnya akan ada tanah yang tebongkar dan ada akar yang akan putus. Demikian juga yang ada dalam perasaan, ketika hendak beranjak, ada luka yang hampir-hampir membuatku menangis atau bahkan sudah menangis.
Sungguh tak mungkin terlupakan saat-saat di Bunta, tentang pemandangan yang indah di dermaga yang tenang, menjelang sore menunggu senja turun, tempat mengobati kerinduan bila ia datang. Tentang nyiur-nyiur yang tak pernah selesai ku kagumi, kampung Bajo yang unik, yang selalu saja sibuk, dengan anak-anak kecil berlarian dan musik etnis yang diputar keras-keras. Juga pesta-pesta kecil di Puskesmas, milu siram, onyop, sinole dan ikan bakar, kebersamaan yang indah. Semuanya adalah kenangan yang akan lekat menyertai perjalanan selanjutnya.
Terakhir, kumohon doa dari sahabat semua, semoga persinggahan berikutnya tetap saja indah. Untuk sahabat , jangan lelah bekerja dan menyempurnakan pengabdian. Lanjutkan… Salam.
Bunta, 21 Februari 2011.
- Ucapan terimakasih kepada Ayahanda dr. Haryadi dan Ibu, yang telah memberikan banyak sekali bantuan dan bimbingan selama bertugas di Banggai. Semoga Allah merahmati selalu.
- Terimaksih kepada dr. Yusran dan Bunda
- Terimaksih kepada Kawan-kawan Dinas Kesehatan Kab. Banggai; Pak Ramli, dr. Wayan.dr. Hari. dr Sulastri, pak Mulyawan, Pak Anwar, Bu Sadarni, Pak Indra, Pak Im, Pak Haris, dan kawan semua atas segala bantuannya.
- Terimaksih kepada rekan Puskesmas Balantak; dr. Zulhan, Pak Urip, Pak Hendra, Pak Haerul, pak Atu, Pak Faisal, Onal, dan kawan semua. Atas segala bantuan dan kehangatannya.
- Terimaksih kepada rekan Puskesmas Teku; Bu Ratna, vera, Nur, Lala. Hari-hari di sana sangat menyenangkan, jangan lelah dan terus bekerja. Salam.
Label:
banggai,
catatan perjalanan,
kenangan
Mesjid Terluas
Aku telah berkelana kawan
Kan kuceritakan padamu tentang mesjid yang hebat
Luasnya adalah ukuran benua
Menaranya menjulang di ketinggian Himalaya
Sisinya tak kan kau dapatkan dari tempatmu berdiri
Tamannya adalah permata hijau hutan tropis yang rimbun
Ada kolam yang biru nan indah dijuluki Pasifik yang tersambung ke Atlantik
Halamanya coklat berhambur pasir Sahara
Di dalamnya adzan bersambung-sambung dari subuh hingga subuh kembali tak berhenti
Berwudhulah di tempat pilihanmu, pada mata air, kelok-kelok sungai atau pada telaga yang jernih.
Bersujudlah di atasnya sesukamu, sebab Tuhan akan mendengar doamu di mana saja engkau meminta
Ia adalah tempat yang hebat sungguh, setiap tempatmu bersujud adalah mesjid.
Luwuk-Banggai, 18 Februari 2011. 19.01
Kan kuceritakan padamu tentang mesjid yang hebat
Luasnya adalah ukuran benua
Menaranya menjulang di ketinggian Himalaya
Sisinya tak kan kau dapatkan dari tempatmu berdiri
Tamannya adalah permata hijau hutan tropis yang rimbun
Ada kolam yang biru nan indah dijuluki Pasifik yang tersambung ke Atlantik
Halamanya coklat berhambur pasir Sahara
Di dalamnya adzan bersambung-sambung dari subuh hingga subuh kembali tak berhenti
Berwudhulah di tempat pilihanmu, pada mata air, kelok-kelok sungai atau pada telaga yang jernih.
Bersujudlah di atasnya sesukamu, sebab Tuhan akan mendengar doamu di mana saja engkau meminta
Ia adalah tempat yang hebat sungguh, setiap tempatmu bersujud adalah mesjid.
Luwuk-Banggai, 18 Februari 2011. 19.01
Label:
catatan perjalanan,
Mesjid,
puisi
Buat Apa Bermaulid
Salam serta shalawat semoga senantiasa menjadi kebiasaan yang lekat mengiringi kecintaan kita kepada Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Lebih dari seribu tahun yang lalu laki-laki dari padang pasir itu datang membawa sebuah nafas baru dalam peradaban umat manusia yang kelam di masanya. Tak pernah tercatat dalam sejarah, perubahan yang begitu massif dalam kurun waktu yang singkat. Al Islam sebuah cahaya yang berpendar pelan-pelan dari jazirah yang kering kemudian menguat lalu menerangi penjuru-penjuru yang jauh sampai hari ini dan akan terus akan benderang hingga matahari tak lagi tebenam di ufuk sebelah barat.
Kita yang hadir hari ini tentu tak lagi bisa menemukan sosoknya yang sempurna itu, Tak bisa berlomba mengisi shaf-shaf terdepan dalam barisan jamaahnya yang rapat, tak bisa ikut duduk berdekat-dekat dalam majelisnya, mendengarkan tuturnya yang sejuk, melihat senyumnya yang menawan sampai terlihat giginya yang putih bersih, mencium wangi tubuhnya. Pemimpin yang besar namun masih punya waktu membesuk saudara yang sakit di ujung kampung, menggendong dan bercanda dengan bocah dan anak-anak belia, sampai masih menyisakan waktu untuk bencengkrama dengan keluarga dan belomba lari dengan istrinya. Lelaki dermawan yang memberi layaknya angin yang berhembus. Ia Panglima disaat yang tepat, mengangkat pedang untuk kehormatan bukan untuk menistakan. Sungguh akhlaknya adalah Al-quran, tapi kita bukan generasi yang diizinkan jatuh hati mencitainya pada pandangan pertama dalam perjumpaan dengannya. Sebab kita terpaut jauh dalam waktu dan jarak.
Tapi kecintaan itu tetaplah juga milik kita, generasi yang jauh namun tak mengurungkan perasaan untuk membesarkan penghormatan kepadanya. Maka semoga dirahmati sang panglima Salahuddin Al Ayyubi ketika menggagas perayaan maulid Nabi untuk mengenang kembali sosok dan perjuangan Rasulullah demi menguatkan ruh dan semangat jihad dalam diri-diri pasukannya -bukan untuk menjadi ritual tahunan semu-. Tapi lalu kemudian sebagian orang setelahnya berlomba-lomba bermaulid dalam seremonial yang jumud dan kehilangan ruh. Merayakan maulid seolah menyerupai golongan yang lain merayakan hari lahir tuhan mereka. Katanya sebagai wujud kecintaan kepada Nabi yang mulia tapi pada saat yang sama mereka mengkhianati kemuliaan ajaran Tauhid dengan perayaan yang terdirtorsi dengan kesyirikan. Beliau mengajarkan kesederhanan tapi kemudian maulid dialaksanakan sebagai ajang yang sarat dengan kemubazziran. Tak ketinggalan sebagian politisi juga pemimpin ikut-ikutan tampil bermaulid untuk memoles citra agar tampak relijius dan lebih dekat dengan umat. Perayaan yang telah berubah menjadi pembodohan umat yang dipelihara.
Maka benarlah tangisan Bilal yang tak mampu menahan duka dan kerinduannya setelah sang Nabi wafat, wajahnya berurai air mata dalam lantunan azan yang menyayat setiap kali mengalunkan kembali nama laki-laki yang mulia itu. Setelah itu ia tak ingin lagi menjadi muazin, sungguh ia tak mampu menahan dukanya. Demikianlah sejatinya seorang muslim pengikut Nabi. Seperti kata Umar kepada Rasulullah; ” aku mencintaimu lebih dari kecintaanku terhadap keluargaku bahkan diriku sendiri”. Maka tak pernah seorangpun dari sahabatnya selepas beliau berpulang, tidak juga generasi terbaik berikutnya, para tabi`in dan tabi` tabi`in lalu generasi sallaffus shalih yang seharusnya menjadi panutan kita dalam agama ini merayakan maulid nabi setahun sekali pada hari kelahiran beliau, sebab kecintaan itu melekat dalam seluruh waktu, berdenyut dalam nadi, maujud dalam setiap gerak bahkan diamnya. Sepanjang waktu. Bukan hanya setahun sekali (itupun hanya semu) layaknya anak ingusan merayakan hari valentine.
Dan sebab kita mencintai Sang Nabi, maka dengan alasan itu pula kita sepantasnya tak boleh ridho pada sekelompok golongan (baca: ahmadiyah) yang secara terus menerus dan sistematis melemparkan kebohongan dan tuduhan yang begitu nista ke wajah Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Semoga kita senantiasa semakin kuat dalam mencintai dan mengikuti tuntunannya. Wassalatu wassalam ala Rasulilllah. Amin.
Luwuk-Banggai, Bulan Maulid 1432 H/ 17 Februari 2011. 17.54
Kita yang hadir hari ini tentu tak lagi bisa menemukan sosoknya yang sempurna itu, Tak bisa berlomba mengisi shaf-shaf terdepan dalam barisan jamaahnya yang rapat, tak bisa ikut duduk berdekat-dekat dalam majelisnya, mendengarkan tuturnya yang sejuk, melihat senyumnya yang menawan sampai terlihat giginya yang putih bersih, mencium wangi tubuhnya. Pemimpin yang besar namun masih punya waktu membesuk saudara yang sakit di ujung kampung, menggendong dan bercanda dengan bocah dan anak-anak belia, sampai masih menyisakan waktu untuk bencengkrama dengan keluarga dan belomba lari dengan istrinya. Lelaki dermawan yang memberi layaknya angin yang berhembus. Ia Panglima disaat yang tepat, mengangkat pedang untuk kehormatan bukan untuk menistakan. Sungguh akhlaknya adalah Al-quran, tapi kita bukan generasi yang diizinkan jatuh hati mencitainya pada pandangan pertama dalam perjumpaan dengannya. Sebab kita terpaut jauh dalam waktu dan jarak.
Tapi kecintaan itu tetaplah juga milik kita, generasi yang jauh namun tak mengurungkan perasaan untuk membesarkan penghormatan kepadanya. Maka semoga dirahmati sang panglima Salahuddin Al Ayyubi ketika menggagas perayaan maulid Nabi untuk mengenang kembali sosok dan perjuangan Rasulullah demi menguatkan ruh dan semangat jihad dalam diri-diri pasukannya -bukan untuk menjadi ritual tahunan semu-. Tapi lalu kemudian sebagian orang setelahnya berlomba-lomba bermaulid dalam seremonial yang jumud dan kehilangan ruh. Merayakan maulid seolah menyerupai golongan yang lain merayakan hari lahir tuhan mereka. Katanya sebagai wujud kecintaan kepada Nabi yang mulia tapi pada saat yang sama mereka mengkhianati kemuliaan ajaran Tauhid dengan perayaan yang terdirtorsi dengan kesyirikan. Beliau mengajarkan kesederhanan tapi kemudian maulid dialaksanakan sebagai ajang yang sarat dengan kemubazziran. Tak ketinggalan sebagian politisi juga pemimpin ikut-ikutan tampil bermaulid untuk memoles citra agar tampak relijius dan lebih dekat dengan umat. Perayaan yang telah berubah menjadi pembodohan umat yang dipelihara.
Maka benarlah tangisan Bilal yang tak mampu menahan duka dan kerinduannya setelah sang Nabi wafat, wajahnya berurai air mata dalam lantunan azan yang menyayat setiap kali mengalunkan kembali nama laki-laki yang mulia itu. Setelah itu ia tak ingin lagi menjadi muazin, sungguh ia tak mampu menahan dukanya. Demikianlah sejatinya seorang muslim pengikut Nabi. Seperti kata Umar kepada Rasulullah; ” aku mencintaimu lebih dari kecintaanku terhadap keluargaku bahkan diriku sendiri”. Maka tak pernah seorangpun dari sahabatnya selepas beliau berpulang, tidak juga generasi terbaik berikutnya, para tabi`in dan tabi` tabi`in lalu generasi sallaffus shalih yang seharusnya menjadi panutan kita dalam agama ini merayakan maulid nabi setahun sekali pada hari kelahiran beliau, sebab kecintaan itu melekat dalam seluruh waktu, berdenyut dalam nadi, maujud dalam setiap gerak bahkan diamnya. Sepanjang waktu. Bukan hanya setahun sekali (itupun hanya semu) layaknya anak ingusan merayakan hari valentine.
Dan sebab kita mencintai Sang Nabi, maka dengan alasan itu pula kita sepantasnya tak boleh ridho pada sekelompok golongan (baca: ahmadiyah) yang secara terus menerus dan sistematis melemparkan kebohongan dan tuduhan yang begitu nista ke wajah Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Semoga kita senantiasa semakin kuat dalam mencintai dan mengikuti tuntunannya. Wassalatu wassalam ala Rasulilllah. Amin.
Luwuk-Banggai, Bulan Maulid 1432 H/ 17 Februari 2011. 17.54
Serial Catatan Perjalanan: Sahabat Laut
Tahukah engkau mengapa aku begitu menyukai laut? Laut yang bening, laut yang hijau, laut yang biru, atau bahkan laut yang hitam hampir-hampir gelap.
Dulu engkau bertanya, mengapa begitu sering kututurkan laut dalam cerita dan catatan perjalananku untukmu.
Seorang sahabat pernah berkata, bahwa baginya laut amat menentramkan, mungkin juga demikian, sebagian dari sekian alasanku memelihara perasaan itu.
Maka sekali waktu ingin aku mengajakmu hadir di tepian lautan pada sebuah dermaga yang tenang di suatu senja yang indah. dermaga tua dari kayu yang di sisinya terikat sampan-sampan kecil yang diayun ombak. Sesekali tamparan riak pada tiangnya memercikkan air laut kewajahmu. Dari jarak yang tak begitu jauh, anak-anak nelayan bermain dengan gembira, berenang dan berlompatan tak peduli matahari yang melayang anggun diatas kepalanya, penuh pesona dengan warna jingga yang lembut. Kita duduk berdampingan seraya menjulurkan kaki yang hampir menyentuh riaknya, Mungkin tak perlu berkata-kata, cukup hanya diam. Menikmati sunyi yang dibawa angin dari negeri yang jauh. Sunyi yang menarik kita pada keheningan yang syahdu. Irama desau angin, pecahan riak gelombang, dan suara kecil lompatan ikan-ikan bermain, hanya itu, selebihnya diam.
Bila engkau tak terburu-buru, kuingin engkau menemaniku sedikit lebih lama, meluaskan pandang jauh kesana, melampaui layar-layar kecil yang bergoyang di kejauhan, bahkan melewati pulau-pulau itu menyentuh batas cakrawala. Lalu apa yang engkau rasakan?
Jika engkau merasakan ketenangan, kelembutan atau bahkan keharuan, sesungguhnya itu jugalah yang kurasakan. Laut telah menjadi tempat membuang resah juga membenamkan rindu yang kadang datang menghujamku.Tempat belajar tentang banyak hal. Dan lebih dari, laut bagiku bahkan kadang menjelma menjadi mihrab yang lapang, tempat dimana kurasakan jemari Tuhan membelaiku dengan lembut. Itu!!-n
Luwuk- Banggai 1 Februari 2011. 19.36
Dulu engkau bertanya, mengapa begitu sering kututurkan laut dalam cerita dan catatan perjalananku untukmu.
Seorang sahabat pernah berkata, bahwa baginya laut amat menentramkan, mungkin juga demikian, sebagian dari sekian alasanku memelihara perasaan itu.
Maka sekali waktu ingin aku mengajakmu hadir di tepian lautan pada sebuah dermaga yang tenang di suatu senja yang indah. dermaga tua dari kayu yang di sisinya terikat sampan-sampan kecil yang diayun ombak. Sesekali tamparan riak pada tiangnya memercikkan air laut kewajahmu. Dari jarak yang tak begitu jauh, anak-anak nelayan bermain dengan gembira, berenang dan berlompatan tak peduli matahari yang melayang anggun diatas kepalanya, penuh pesona dengan warna jingga yang lembut. Kita duduk berdampingan seraya menjulurkan kaki yang hampir menyentuh riaknya, Mungkin tak perlu berkata-kata, cukup hanya diam. Menikmati sunyi yang dibawa angin dari negeri yang jauh. Sunyi yang menarik kita pada keheningan yang syahdu. Irama desau angin, pecahan riak gelombang, dan suara kecil lompatan ikan-ikan bermain, hanya itu, selebihnya diam.
Bila engkau tak terburu-buru, kuingin engkau menemaniku sedikit lebih lama, meluaskan pandang jauh kesana, melampaui layar-layar kecil yang bergoyang di kejauhan, bahkan melewati pulau-pulau itu menyentuh batas cakrawala. Lalu apa yang engkau rasakan?
Jika engkau merasakan ketenangan, kelembutan atau bahkan keharuan, sesungguhnya itu jugalah yang kurasakan. Laut telah menjadi tempat membuang resah juga membenamkan rindu yang kadang datang menghujamku.Tempat belajar tentang banyak hal. Dan lebih dari, laut bagiku bahkan kadang menjelma menjadi mihrab yang lapang, tempat dimana kurasakan jemari Tuhan membelaiku dengan lembut. Itu!!-n
Luwuk- Banggai 1 Februari 2011. 19.36
Label:
banggai,
catatan perjalanan,
rindu
Rindu Ayah
Maafkan ayah nak, seharusnya ayah disisimu saat ini menemani hari-harimu yang masih amat belia sebagaimana rupamu yang masih saja merah. Membersamai bundamu dalam malam-malamnya yang kehilangan waktu tidurnya, tak lelah mengurus dirimu. Sepantasnya memang aku disana, setidaknya turut membantu meski tak banyak walau hanya membantu menggantikan popokmu yang basah.
Maafkan ayah nak, bahwa pada akhirnya ayah harus berangkat juga, ke tempat yang jauh ini, menggenapkan tugas yang belum selesai. Kelak akan kuceritakan tentang tanah ini, sebuah tanah yang sangat indah mengangumkan, juga sangat kaya. Pantai yang panjang berkelok tak habis-habis berpagar nyiur-nyiur yang berkawan dengan angin. Ombak yang tak pernah berhenti berpesta berkejaran tak selesai. Sesekali lumba-lumba datang ikut bermain. Senja dan purnama adalah kisah yang tak kan kulewatkan, dari dermaga yang tenang bila kau menemuinya ia bisa membuatmu bergetar mungkin sampai menangis. Lalu anak-anak disini adalah kumpulan para pemberani, didikan alam yang tangguh, sahabatnya adalah lautan maka ombak dan badai adalah temanya berbagi suka dan duka. Orang-orang tuanya adalah sahabat yang hangat, sejawat yang setia, juga guru yang bijaksana. Mereka terampil memaknai arti persaudaran.
Sungguh ayah rindu nak, pada suara tangismu yang tak biasa, tapi pekikan keras yang kusangkakan itu adalah tangis perlawanan pada dunia yang durjana tempat kesejatian dipalingkan dan di asingkan jauh-jauh. Dunia yang kau hadiri hari ini nak, adalah dunia yang semakin menyesakkan nurani, maka engkau tiba pada hari-hari yang semakin sulit. Namun ayah percaya kelak kau akan menunjukkan bahwa dunia ini adalah nista dimatamu. Ayah rindu nak, pada bening bola matamu, tatapanmu yang teduh dan bersih, laksana lautan di musim yang tenang, amat bersahaja. Mata yang kukenali sangat serupa dengan mata seorang perempuan yang melahirkanmu. Ayah juga sangat rindu nak, pada wangi tubuh dan lembut sentuhanmu, kudoakan semoga akhlak juga hatimu jauh lebih harum dan lembut dari sekedar lahiriahmu.
Sungguh ayah rindu nak, dengan semua yang ada pada dirimu.-n
Banggai, 3 Januari 2011-16.01
Maafkan ayah nak, bahwa pada akhirnya ayah harus berangkat juga, ke tempat yang jauh ini, menggenapkan tugas yang belum selesai. Kelak akan kuceritakan tentang tanah ini, sebuah tanah yang sangat indah mengangumkan, juga sangat kaya. Pantai yang panjang berkelok tak habis-habis berpagar nyiur-nyiur yang berkawan dengan angin. Ombak yang tak pernah berhenti berpesta berkejaran tak selesai. Sesekali lumba-lumba datang ikut bermain. Senja dan purnama adalah kisah yang tak kan kulewatkan, dari dermaga yang tenang bila kau menemuinya ia bisa membuatmu bergetar mungkin sampai menangis. Lalu anak-anak disini adalah kumpulan para pemberani, didikan alam yang tangguh, sahabatnya adalah lautan maka ombak dan badai adalah temanya berbagi suka dan duka. Orang-orang tuanya adalah sahabat yang hangat, sejawat yang setia, juga guru yang bijaksana. Mereka terampil memaknai arti persaudaran.
Sungguh ayah rindu nak, pada suara tangismu yang tak biasa, tapi pekikan keras yang kusangkakan itu adalah tangis perlawanan pada dunia yang durjana tempat kesejatian dipalingkan dan di asingkan jauh-jauh. Dunia yang kau hadiri hari ini nak, adalah dunia yang semakin menyesakkan nurani, maka engkau tiba pada hari-hari yang semakin sulit. Namun ayah percaya kelak kau akan menunjukkan bahwa dunia ini adalah nista dimatamu. Ayah rindu nak, pada bening bola matamu, tatapanmu yang teduh dan bersih, laksana lautan di musim yang tenang, amat bersahaja. Mata yang kukenali sangat serupa dengan mata seorang perempuan yang melahirkanmu. Ayah juga sangat rindu nak, pada wangi tubuh dan lembut sentuhanmu, kudoakan semoga akhlak juga hatimu jauh lebih harum dan lembut dari sekedar lahiriahmu.
Sungguh ayah rindu nak, dengan semua yang ada pada dirimu.-n
Banggai, 3 Januari 2011-16.01
Label:
banggai,
catatan perjalanan,
rindu
Sekedar Mengenang (Asrama Medica)*
Dinding dan langit-langit kamar itu kini tentu kesepiaan, ia yang setia menjadi saksi gemuruh semangat memenuhi ruangnya yang tak lapang. Semangat yang sering kali galau dipatah kecemasan dan katakutan tak beralasan. Semangat yang kemudian tumbuh lagi oleh tekad dan nasihat dari jauh atau oleh sesosok makhluk indah yang senyumnya begitu teduh. Lalu ia patah lagi terus bertunas lagi seperti musim yang senang bertukar.
Dan waktu yang demikian panjang itu, akhirnya menyaksikan bahwa pada saatnya semangat itulah yang menjadi pemenang, tak menyerah oleh tantangan dan ujian. Hingga tiba ketika dinding dan langit-langit kamar itu kesepian ditinggal berlalu, merindukan kata-kata yang sering dituliskan dengan tintah merah dan warna hijau..tentang semangat juga tentang amarah, idealisme dan cinta.
Tentang semua kenangan yang manis nian… Masih ingatkah engkau kawan, di rumah itu???
*Untuk sahabat, dr. Laode Awal Akram
Makassar, November 2010
Dan waktu yang demikian panjang itu, akhirnya menyaksikan bahwa pada saatnya semangat itulah yang menjadi pemenang, tak menyerah oleh tantangan dan ujian. Hingga tiba ketika dinding dan langit-langit kamar itu kesepian ditinggal berlalu, merindukan kata-kata yang sering dituliskan dengan tintah merah dan warna hijau..tentang semangat juga tentang amarah, idealisme dan cinta.
Tentang semua kenangan yang manis nian… Masih ingatkah engkau kawan, di rumah itu???
*Untuk sahabat, dr. Laode Awal Akram
Makassar, November 2010
Label:
catatan hati,
kenangan,
medica
Berangkatlah...
Berangkatlah kawan…jangan berdiam lebih lama, jejaki tanah-tanah yang jauh, di tanah yang asing, tempat yang bahkan namanya tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Jangan berikan rasa ragu pada langkah itu, bebaskan ia mengalir, seperti arus yang merindukan lautan, bergerak tak gamang dan tanpa rasa takut.
Tak perlulah khawatir, sebab di sana teriknya tak berbeda dengan hangat mentari yang menggantung di langit kita setiap hari di sini, angin dan badainya akan menjadi kenangan suka duka mengharukan yang akan membuatmu menjadi lebih kuat, orang-orangnya akan menjadi sahabat dan saudaramu yang baru, tempat berbagi dan menyerap pelajaran tentang makna persaudaraan.
Lalu bagaimana dengan kerinduan, kepada orang-orang tercinta, orang tua, guru, para sahabat, atau siapapun mereka yang telah mengambil tempat di hati terdalam? Satu dua hari mungkin ia akan mengganggumu, ini memang sangat manusiawi kawan. Tapi berikutnya engkau akan terbangun pada sebuah pagi dengan tekad yang sadar bahwa karya harus segera di mulai. Dan setelah itu kerinduanmu akan berubah menjadi doa-doa yang kuat. Menjelma menjadi nyala yang membakar semangatmu.
Di perjalanan itu akan engkau temukan saripati kehidupan, ketika hadir pada kenyataan hidup yang sesungguhnya, melihat sendiri, mendengarkan sendiri, dan ikut merasakan sendiri tanpa perantara sebagaimana apa yang mereka rasakan, larut bersama mereka yaitu orang-orang yang paling berhak atas amanat yang tersemat di pundak kita. Akan engkau temukan bahwa hidup ini jauh lebih pelik dari yang pernah dibicarakan buku-buku teks terlengkap sekalipun.
Dan jangan lupa gembirailah persinggahan-persinggahanmu, pada riak gelombang, pundak-pundak bukit sampai ceruk sungai yang jauh, ataukah jalan yang mengular di padang sabana yang luas, nikmati semua, dan temukan hikmah di sana, di setiak jejakmu, pada tanah, laut, angin atau orang-orangnya, temukan padanya makna bersayap-sayap yang akan membawamu semakin meninggi ke maqam kearifan.
Bergeraklah untuk merebut mimpi dan menggenapkan serpihan takdirmu, sekaligus membumikan ilmu dan pengabdian, di perjalanan itu engkau juga pada akhirnya akan mengerti bahwa salah satu pintu memasuki kebahagiaan hidup yaitu melalui ketulusan berbagi dan memberi. Bahwa kebahagiaan adalah apa yang kita rasakan di dalam diri ketika bisa membuat orang lain berbahagia.
Lalu dari tempat-tempat yang jauh itu, engkau pun akan membagi cerita tentang pengalaman, tentang semangat dan idealisme yang tak boleh surut, atau tentang apa saja yang akan menjadi saksi bahwa di bawah matahari selalu ada anak muda yang siap mengabdi untuk kemanusiaan.-n
*Untuk seorang kawan yang segera memulai jalan pengabdiaanya di sebuah kota di timur tenggara, Manggarai NTT. Salama’ki dottoro
Negeri Seribu Nyiur, Bunta-Banggai, Malam 12 Ramadhan 1431 H
Tak perlulah khawatir, sebab di sana teriknya tak berbeda dengan hangat mentari yang menggantung di langit kita setiap hari di sini, angin dan badainya akan menjadi kenangan suka duka mengharukan yang akan membuatmu menjadi lebih kuat, orang-orangnya akan menjadi sahabat dan saudaramu yang baru, tempat berbagi dan menyerap pelajaran tentang makna persaudaraan.
Lalu bagaimana dengan kerinduan, kepada orang-orang tercinta, orang tua, guru, para sahabat, atau siapapun mereka yang telah mengambil tempat di hati terdalam? Satu dua hari mungkin ia akan mengganggumu, ini memang sangat manusiawi kawan. Tapi berikutnya engkau akan terbangun pada sebuah pagi dengan tekad yang sadar bahwa karya harus segera di mulai. Dan setelah itu kerinduanmu akan berubah menjadi doa-doa yang kuat. Menjelma menjadi nyala yang membakar semangatmu.
Di perjalanan itu akan engkau temukan saripati kehidupan, ketika hadir pada kenyataan hidup yang sesungguhnya, melihat sendiri, mendengarkan sendiri, dan ikut merasakan sendiri tanpa perantara sebagaimana apa yang mereka rasakan, larut bersama mereka yaitu orang-orang yang paling berhak atas amanat yang tersemat di pundak kita. Akan engkau temukan bahwa hidup ini jauh lebih pelik dari yang pernah dibicarakan buku-buku teks terlengkap sekalipun.
Dan jangan lupa gembirailah persinggahan-persinggahanmu, pada riak gelombang, pundak-pundak bukit sampai ceruk sungai yang jauh, ataukah jalan yang mengular di padang sabana yang luas, nikmati semua, dan temukan hikmah di sana, di setiak jejakmu, pada tanah, laut, angin atau orang-orangnya, temukan padanya makna bersayap-sayap yang akan membawamu semakin meninggi ke maqam kearifan.
Bergeraklah untuk merebut mimpi dan menggenapkan serpihan takdirmu, sekaligus membumikan ilmu dan pengabdian, di perjalanan itu engkau juga pada akhirnya akan mengerti bahwa salah satu pintu memasuki kebahagiaan hidup yaitu melalui ketulusan berbagi dan memberi. Bahwa kebahagiaan adalah apa yang kita rasakan di dalam diri ketika bisa membuat orang lain berbahagia.
Lalu dari tempat-tempat yang jauh itu, engkau pun akan membagi cerita tentang pengalaman, tentang semangat dan idealisme yang tak boleh surut, atau tentang apa saja yang akan menjadi saksi bahwa di bawah matahari selalu ada anak muda yang siap mengabdi untuk kemanusiaan.-n
*Untuk seorang kawan yang segera memulai jalan pengabdiaanya di sebuah kota di timur tenggara, Manggarai NTT. Salama’ki dottoro
Negeri Seribu Nyiur, Bunta-Banggai, Malam 12 Ramadhan 1431 H
Label:
catatan perjalanan,
inspirasi,
medica,
petualang
Senin, 10 Mei 2010
Tetaplah Bertahan

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-ankabut: 2)
Seharusnya keimanan, kejujuran, keikhlasan, dan semua komitmen idealis lainnya adalah pilihan yang tak bisa lagi ditawar. Bahwa seluruh komitmen tersebut adalah prasyarat sebuah pemuliaan diri, yang tak sekedar dibunyikan sebagai sebuah klaim verbal, namun ia butuh dihidupkan dalam setiap gerak ruas tubuh kita, bahkan dalam diam pun seharusnya adalah pemaknaan dari komitmen itu. Melekat dan bersenyawa dalam diri yang dengannya kita menjadi, dengannya kita disebut.
Ini memang pilihan yang tak mudah, pilihan yang akan menyita perhatian dari seluruh jatah umur kita, pilihan yang tak ingin memberikan ruang pada diri untuk sejenak mengambil waktu dan kemudian abai dari menjaganya. Pilihan yang akan menguras energi kesabaran kita. Inilah komitmen yang meletihkan, sebab ia adalah kesibukan yang tak selesai, kerja yang tak habis-habis. Setiap saat harus selalu dikuatkan, senantiasa harus dibela, tak kenal waktu dan tak peduli medan, ia harus selalu dimenangkan dari tarikan-tarikan yang menggodanya.
Demikianlah kenyataanya, karena hidup berjalan pada titian yang penuh tipu daya, panggilan-panggilan syahwat memenuhi kiri kanannya. Jebakan-jebakan pseudosurgawi yang melenakan. Sehari berjalan dijalur yang sejati, mungkin terjatuh esok hari, lalu lusa berbelok lagi, selajutnya lupa pada jalan pulang lagi.
Namun apakah ini akan membuat kita mundur, merasa ciut pada tantanganya, lalu hendak menimbang ulang pada keputusan untuk bertahan? Maka ketahuilah olehmu wahai putra dan putri peradaban, mereka yang meninggikan azamnya bagi kemuliaan, mereka yang telah menegakkan keyakinannya untuk kejayaan, tentu tak ada alasan demi membatalkan pilihan untuk tetap setia pada komitmen itu.
Mereka sungguh telah mengetahui bahwa tidaklah teguh sebuah iman sebelum ia diuji, seperti kejujuran barulah disematkan ketika ia berani berkata tidak pada godaan-godaan yang mencederai komitmennya, sebagaimana keihklasan yang murni karena ia bertahan untuk tidak memilih jalan kecuali yang disiapkan untuknya, dan juga semua komitmen idealis lainnya tegak setelah melalui ujiannya masing-masing.
Maka seharusnya pun kita di sini juga masih tetap gagah berdiri, bangga pada jalan yang telah kita pilih. Sebuah jalan yang tak lagi boleh ditawar, jalan yang kita mengerti akan membawa pada ketinggian maqam di sisi-Nya. Dan semoga kita bisa istiqomah untuk tetap berkata tegas; “…aku akan bertahan pada pendirian ini, bahkan bila semua orang meninggalkanku sendirian”.-n
Bunta Banggai, 20.54 Wita 16 April 2010.
Tadzkirah
Dari Ibnu Umar ra. Berkata : “ Rasulullah saw memegang pundakku dan bersabda, Jadilah engkau seperti orang asing atau penyeberang jalan.”
Ibnu Umar berkata, ” jika kamu berada di sore hari, jangan engkau menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore hari, ambillah persiapan saat engkau sehat, untuk menghadapi masa sakitmu dan saat hidupmu untuk sesudah kematianmu” ( HR Bukhari)
Kita hanyalah seorang pendatang, yang niscaya akan kembali jua ke sumber yang azali, ke
rumah tempat pulang yang abadi. Entah itu esok hari, ataukah sekian puluh tahun lagi, bahkan adakah yang menjamin kalau nafas berikutnya masih milik kita lagi? Tak ada yang tahu.
Kita hanyalah peziarah yang singgah tak lama di tempat ini, datang dengan sebuah perjajian yang sungguh tak ringan, hadir dengan membawa amanah langit, tugas penghambaan sekaligus amanah kepemimpinan.
Tak mudah memang perjalanan ini, sebab ujian datang pada seluruh bagian dari hidup kita, hadir pada setiap gerak dan bahkan pada diam kita. Tarikan-tarikan yang menggoda untuk berlepas diri dari jalan idealis itu selalu tampak menggiurkan dan melenakan. Bahkan tantangan terbesar yang mesti kita kalahkan datang dan berdenyut bersama urat nadi kita, ialah kecendrungan syahwati.
Demikianlah perjalanan kehidupan ini, tidaklah mampu bertahan untuk setia menekuni jalan kemuliaan dan menapaki langit ketinggian kecuali mereka yang memiliki nafas keteguhan yang paling panjang. Maka perlu ada tradisi penguatan di sini, sebuah tradisi iman, waktu dimana kita berhenti sejenak, mengambil cermin kejujuran, melihat diri kita apa adanya. Menegakkan neraca dan menakar bobot kita seutuhnya. Mengukur ulang perjalanan, karya dan amal apa yang telah lahirkan. Sekaligus sebagai sarana untuk mengisi ulang kekuatan ruhiyah, untuk kembali meneguhkan azzam dan keyakinan. Karena sungguh sejatinya nilai kita dimata kebenaran adalah gerak yang kita selesaikan dalam karya dan amal, diluar itu hanyalah kesiaan.
Inilah hari kerja, waktu amal, saat berkeringat dan letih, kesempatan yang diberikan untuk menuntaskan janji agung kita sebagai hamba, untuk setia mengabdi sampai jatah nafas kita usai.
Hari ini adalah hari-hari memaknai, menyempurnakan kemuliaan, mengalahkan kejumudan, pembebasan diri dari kemelakatan terhadap dunia.
Sampai akhirnya ketika masa kembali itu tiba, kita dapat pulang menghadapkan wajah hati kita dengan berseri-seri, tanpa ragu dan tidak kehilangan nyali. InsyaAllah!-n
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al quran Surah Al Hasyr 18)
Banggai, 26 April 201
Ibnu Umar berkata, ” jika kamu berada di sore hari, jangan engkau menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore hari, ambillah persiapan saat engkau sehat, untuk menghadapi masa sakitmu dan saat hidupmu untuk sesudah kematianmu” ( HR Bukhari)
Kita hanyalah seorang pendatang, yang niscaya akan kembali jua ke sumber yang azali, ke
rumah tempat pulang yang abadi. Entah itu esok hari, ataukah sekian puluh tahun lagi, bahkan adakah yang menjamin kalau nafas berikutnya masih milik kita lagi? Tak ada yang tahu.
Kita hanyalah peziarah yang singgah tak lama di tempat ini, datang dengan sebuah perjajian yang sungguh tak ringan, hadir dengan membawa amanah langit, tugas penghambaan sekaligus amanah kepemimpinan.
Tak mudah memang perjalanan ini, sebab ujian datang pada seluruh bagian dari hidup kita, hadir pada setiap gerak dan bahkan pada diam kita. Tarikan-tarikan yang menggoda untuk berlepas diri dari jalan idealis itu selalu tampak menggiurkan dan melenakan. Bahkan tantangan terbesar yang mesti kita kalahkan datang dan berdenyut bersama urat nadi kita, ialah kecendrungan syahwati.
Demikianlah perjalanan kehidupan ini, tidaklah mampu bertahan untuk setia menekuni jalan kemuliaan dan menapaki langit ketinggian kecuali mereka yang memiliki nafas keteguhan yang paling panjang. Maka perlu ada tradisi penguatan di sini, sebuah tradisi iman, waktu dimana kita berhenti sejenak, mengambil cermin kejujuran, melihat diri kita apa adanya. Menegakkan neraca dan menakar bobot kita seutuhnya. Mengukur ulang perjalanan, karya dan amal apa yang telah lahirkan. Sekaligus sebagai sarana untuk mengisi ulang kekuatan ruhiyah, untuk kembali meneguhkan azzam dan keyakinan. Karena sungguh sejatinya nilai kita dimata kebenaran adalah gerak yang kita selesaikan dalam karya dan amal, diluar itu hanyalah kesiaan.
Inilah hari kerja, waktu amal, saat berkeringat dan letih, kesempatan yang diberikan untuk menuntaskan janji agung kita sebagai hamba, untuk setia mengabdi sampai jatah nafas kita usai.
Hari ini adalah hari-hari memaknai, menyempurnakan kemuliaan, mengalahkan kejumudan, pembebasan diri dari kemelakatan terhadap dunia.
Sampai akhirnya ketika masa kembali itu tiba, kita dapat pulang menghadapkan wajah hati kita dengan berseri-seri, tanpa ragu dan tidak kehilangan nyali. InsyaAllah!-n
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al quran Surah Al Hasyr 18)
Banggai, 26 April 201
Senin, 12 April 2010
Selalu Ada Kabar Baik
“…supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”.( QS Al Mulk : 2)
Proses belajar adalah bagian dari hidup yang tak boleh selesai dengan sehari dua hari dalam perjalanan waktu kita. Ia seharusnya adalah ikhtiar yang kita usahakan pada seluruh jatah umur itu, belajar tentang apa saja, demi menuju proses penyempurnaan diri, termasuk diantaranya tentang penyerahan diri dan memelihara persangkaan baik kepada Allah, belajar bersabar dan berlapang dada pada setiap keputusan-Nya.
Bahwa kita mungkin pernah menjadi pendengar dari tutur sahabat yang membagi keluhnya tentang kegagalan yang berkali-kali menderanya, tidak hanya sekali, dua kali, tapi sampai berulang kali, namun tak juga kunjung menemukan titik terang atas kekecewaannya. Atau sahabat yang lain ketika bercerita tentang penantiaannya yang begitu panjang. Sampai khawatir kehilangan kesabaran. Atau bahkan terkadang justru kita menemukan diri sendiri tiba pada sebuah titik letih, yang membuat keruh keyakinan yang seharusnya jernih, lemah untuk merawat keteguhan. Lalu bertanya dimanakah ujungnya sebuah kesabaran?
Di sinilah letak titik krusialnya, karena sering pertanyaan itu muncul sebagai isyarat menurunnya kadar keyakinan kita, melemahnya kesetiaan kita untuk bertahan pada prsangka baik yang terjaga kepada-Nya. Pertanyaan yang sering mengalihkan kita dari berdisiplin untuk senantiasa berpikir positif dan berlapang dada. Lalu akhirnya kita tergesa-gesa untuk untuk mengambil kesimpulan, dan seolah kita cukup ilmu untuk memvonis bahwa kehidupan telah berlaku tidak adil.
Demikianlah kenyataannya sering diantara kita terlalu berani menuding Tuhan dengan tuduhan yang sungguh tak sopan, bahwa takdirnya begitu kejam.
Tak ada yang kebetulan.
Bukankah kita telah sama paham bahwa tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, setiap detail dari sebuah peristiwa adalah rangkaian bagian-bagian konstruksi dari rancangan bangunan kehidupan kita, selalu ada alasan dari kehadiran bagian dari detail-datail peristiwa tersebut, yang akan saling terkait, saling mengokohkan, saling mengindahkan bagian yang lain. Satu jalan takdir menjadi sebab takdir yang lain, atau menjadi jawaban dan alasan takdir lainnya. Sebuah rangkaian konstalasi yang rumit dan sempurna sekaligus menjelaskan keindahan hikmah dan kebikjasanaan Rabb Sang pengatur kehidupan.
Jika seandainya Tuhan berkehendak untuk memaparkan secara terang seluruh detail takdir kita lengkap dengan setiap alasannya, disertakan dengan seluruh hikmahnya, maka tentulah kita akan merasa malu dan kemudian dengan sepenuh hati menyerahkan semua urusan itu kembali kepada-Nya dan tak ingin punya pertanyaan lagi. Tapi kenyataannya banyak alasan dari takdir kita tetap menjadi rahasia-Nya, dan disinilah ujian itu, sebab Tuhan ingin melihat siapa diantara kita yang terbaik kualitas imannya.
Pernah seorang guru berujar; “bahwa sejatinya tak ada kabar baik atau buruk, yang ada hanyalah kabar, kitalah yang melihat sesuatu itu sebagai kabar baik atau meyimpulnya sebagai kabar buruk”. Kitalah yang membangun kenyataan dengan persepsi itu. Sebuah pesan yang dalam untuk bersikap dewasa pada setiap kejadian atas kita. Pesan yang mengajak kita masuk pada inti kearifan. Namun sebagai orang yang beriman bukankah lebih layak kita berkata; “bahwa sejatinya tak ada kabar buruk, bagi mereka yang yakin hanya ada kabar baik, selalu ada kabar baik”. Sebab setiap keputusan
Tuhan tidaklah berkehendak kecuali kebaikan untuk kita. Hanya saja wajah keindahan takdir-Nya hadir tak selalu indah dalam pandangan lahiriah kita. Maka kualitas imanlah yang mampu menangkap hikmah dan keindahan yang tak kasat mata itu. Melalui kesabaran yang tak letih dan prasangka baik yang terawat dengan yakin.
Maka tak perlulah kita berduka atau kecewa atas kehidupan, sebab dibalik semua keputusan-Nya ada alasan yang pasti indah. Bersabarlah sedikit lagi dan temukan diri menjadi lebih berbahagia. Wallahu `alam.- n
Bunta- Banggai, Ba’da Jumat 9 April 2010
Proses belajar adalah bagian dari hidup yang tak boleh selesai dengan sehari dua hari dalam perjalanan waktu kita. Ia seharusnya adalah ikhtiar yang kita usahakan pada seluruh jatah umur itu, belajar tentang apa saja, demi menuju proses penyempurnaan diri, termasuk diantaranya tentang penyerahan diri dan memelihara persangkaan baik kepada Allah, belajar bersabar dan berlapang dada pada setiap keputusan-Nya.
Bahwa kita mungkin pernah menjadi pendengar dari tutur sahabat yang membagi keluhnya tentang kegagalan yang berkali-kali menderanya, tidak hanya sekali, dua kali, tapi sampai berulang kali, namun tak juga kunjung menemukan titik terang atas kekecewaannya. Atau sahabat yang lain ketika bercerita tentang penantiaannya yang begitu panjang. Sampai khawatir kehilangan kesabaran. Atau bahkan terkadang justru kita menemukan diri sendiri tiba pada sebuah titik letih, yang membuat keruh keyakinan yang seharusnya jernih, lemah untuk merawat keteguhan. Lalu bertanya dimanakah ujungnya sebuah kesabaran?
Di sinilah letak titik krusialnya, karena sering pertanyaan itu muncul sebagai isyarat menurunnya kadar keyakinan kita, melemahnya kesetiaan kita untuk bertahan pada prsangka baik yang terjaga kepada-Nya. Pertanyaan yang sering mengalihkan kita dari berdisiplin untuk senantiasa berpikir positif dan berlapang dada. Lalu akhirnya kita tergesa-gesa untuk untuk mengambil kesimpulan, dan seolah kita cukup ilmu untuk memvonis bahwa kehidupan telah berlaku tidak adil.
Demikianlah kenyataannya sering diantara kita terlalu berani menuding Tuhan dengan tuduhan yang sungguh tak sopan, bahwa takdirnya begitu kejam.
Tak ada yang kebetulan.
Bukankah kita telah sama paham bahwa tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, setiap detail dari sebuah peristiwa adalah rangkaian bagian-bagian konstruksi dari rancangan bangunan kehidupan kita, selalu ada alasan dari kehadiran bagian dari detail-datail peristiwa tersebut, yang akan saling terkait, saling mengokohkan, saling mengindahkan bagian yang lain. Satu jalan takdir menjadi sebab takdir yang lain, atau menjadi jawaban dan alasan takdir lainnya. Sebuah rangkaian konstalasi yang rumit dan sempurna sekaligus menjelaskan keindahan hikmah dan kebikjasanaan Rabb Sang pengatur kehidupan.
Jika seandainya Tuhan berkehendak untuk memaparkan secara terang seluruh detail takdir kita lengkap dengan setiap alasannya, disertakan dengan seluruh hikmahnya, maka tentulah kita akan merasa malu dan kemudian dengan sepenuh hati menyerahkan semua urusan itu kembali kepada-Nya dan tak ingin punya pertanyaan lagi. Tapi kenyataannya banyak alasan dari takdir kita tetap menjadi rahasia-Nya, dan disinilah ujian itu, sebab Tuhan ingin melihat siapa diantara kita yang terbaik kualitas imannya.
Pernah seorang guru berujar; “bahwa sejatinya tak ada kabar baik atau buruk, yang ada hanyalah kabar, kitalah yang melihat sesuatu itu sebagai kabar baik atau meyimpulnya sebagai kabar buruk”. Kitalah yang membangun kenyataan dengan persepsi itu. Sebuah pesan yang dalam untuk bersikap dewasa pada setiap kejadian atas kita. Pesan yang mengajak kita masuk pada inti kearifan. Namun sebagai orang yang beriman bukankah lebih layak kita berkata; “bahwa sejatinya tak ada kabar buruk, bagi mereka yang yakin hanya ada kabar baik, selalu ada kabar baik”. Sebab setiap keputusan
Tuhan tidaklah berkehendak kecuali kebaikan untuk kita. Hanya saja wajah keindahan takdir-Nya hadir tak selalu indah dalam pandangan lahiriah kita. Maka kualitas imanlah yang mampu menangkap hikmah dan keindahan yang tak kasat mata itu. Melalui kesabaran yang tak letih dan prasangka baik yang terawat dengan yakin.
Maka tak perlulah kita berduka atau kecewa atas kehidupan, sebab dibalik semua keputusan-Nya ada alasan yang pasti indah. Bersabarlah sedikit lagi dan temukan diri menjadi lebih berbahagia. Wallahu `alam.- n
Bunta- Banggai, Ba’da Jumat 9 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
