Kamis, 08 Mei 2008

Salam Rindu

Ibu...
Bila kau ku rindu
Segala hijau menjadi layu
Aku luruh dalam gemuruh
terseduh
Ibu...Aku merindukanmu seperti
aku mengharapkan surga

Bapak...
Bila rembulan hadir dalam indahnya
yang paling sempurna
Itulah wajahmu
yang menguatkan langkahku
Bapak...Hangatmu hadir
dalam setiap hembusan nafasku.

Wahai angin, kutitip rasa sedalam rindu...

Ambon, 8 Mei 2008

Rabu, 07 Mei 2008

Negeri Ironi

Mari kita beristirahat sejenak, tuan. Melupakan sesaat peliknya krisis yang mendera hari hari negeri kita. Apalagi esok harga BBM konon kabar akan naik kembali.
Mari kita rehat sejenak, puan. Berbincang tentang sebuah negeri yang unik. Negeri ini kaya akan lelucon-lelucon aneh, melimpah negeri ini oleh tokoh-tokoh dengan karakter antagonis.

Konon kabarnya negeri ini sangat indah. lukisan alamnya mengagumkan, seolah ia adalah potongan-potongan nirwana yang jatuh dari langit. Bentangan pantainya sejauh mata memandang. rimba dan gunungnya teduh dan anggun. Tapi itu dulu.
Anak-anak negeri itu mungkin jenuh dengan anugerah, mereka merusak, membakarnya dan tak bertanggung jawab. Maka alam pun murka, tak lagi bersahabat. Bencana adalah menu harian yang teramat biasa.

Konon kabarnya negeri ini sangat kaya, sumber daya alamnya melimpah tak habis-habis, membentang dari ujung sampai ke ujung, di atas tanahnya ataupun di dalam perut buminya.
Tapi para penguasa di negeri itu berkhianat, merelakan kekayaan negerinya dirampok negeri-negeri lain. Jadilah anak-anak negeri itu miskin, terbelakang, dan kelaparan.

Konon juga kabarnya, negeri itu punya jati diri sebagai bangsa yang bermartabat, punya harga diri, religius dan tak pernah kehabisan pahlawan. Tapi itu tinggal cerita lama, karena kini anak-anak negerinya telah terbius oleh candu imperialis. Mereka telah meninggalkan budaya malu, menggantinya dengan praktek-praktek berselera rendah produk penjajah. Mereka beragama, tapi lebih sering lupa bahwa mereka itu bertuhan. Kehilangan harga diri, dan teramat langka orang-orang yang mau berjuang.

Sebenarnya, masih banyak keganjilan dan kegilaan negeri ironi itu, tapi cukup di sini saja. Ada kengerian membayangkan bagaimana masa depan negeri tersebut.
Maka wahai tuan dan puan, mari kita berdoa dan terus bekerja, semoga saja negeri kita tak menjadi negeri ironi yang konon kabarnya tak jauh berbeda dengan negeri tersebut. Nauzubillah.
Ambon, 7 Mei 2008

Selasa, 06 Mei 2008

Catatan Kecil Hari Pendidikan Nasional

Quo Vadis Pendidikan Anak Negeri

Seperti tersulut semangat yg ditularkan Bang Andrea `Ikal` Hirata dalam novel inspiratif Laskar Pelangi-nya, saya seperti terbawa kedalam pusaran harapan yang cerah tentang masa depan pendidikan bangsa ini.Karakter tokoh-tokoh orisinil watak pejuang, tak diragukan lagi. Anak-anak yang mengagumkan, Guru-guru yang luar biasa (semoga Allah membalas jasanya), seperti taman dan pagarnya. Anak-anak adalah kembang zamannya yang dibesarkan dan dijaga oleh pelindung yang kokoh. maka tantangan hidup yang keras (asli Indon
esia) adalah sarapan pagi, menu utama, makanan penutup siang dan malam, menjadi nutrisi yang memperkaya keahlian mereka menghadapi hidup. Tak terkalahkan...
Demikianlah anak-anak terbaik selalu lahir dari rahim guru-gur terbaik. maka kusematkan salam salut pada pendidik yang menyempurnakan dedikasinya. Dan setiap kali memandang wajah cerah anak-anak itu, di bening mata mereka, di situ seolah saya menemukan orang-orang hebat; Aristoteles, As Syafi`i, Ibnu khaldun, Ibnu Sina, Al Khawarismi, Newton, Einstein, Hamka, Habibie habibie masa depan.

Sebuah Paradoks
Tapi seolah kita akan mengalami mimpi buruk justru di alam realitas kita hari ini. Guru kencing berdiri, murid kencing menari. Dan Tak ada yang berminat mengoreksi pepatah klasik ini, sebab demikianlah faktanya. like Father like Son, seperti Bapak begitulah anaknya.
Ketika sebuah parodi kolosal baru saja dan sedang pentas di negeri ini. Hajatan besar tahunan (UAN) yang memang selalu menuai pro kontra, kembali berhasil membuat kita meringis miris.
Bukan rahasia lagi, tuan...sebab anak-anak "manis" itu telah berkolaborasi dengan guru-guru sok akademis, melakoni dosa jamaah, mengkhianati integritas, dedikasi, idealisme, nilai-nilai moral dan intelektualitas mereka sendiri. anak-anak itu telah menjadikan nyontek sebagai budaya populis, sementara guru-guru itu merasa "berderma" dengan memberikan bocoran jawaban, agar ia dan sekolahnya tetap laris manis. Hebat betul, bukan?

Buat apa pintar
Tapi, bukan salah bunda mengandung, Kita hanya perlu menata sistem ini kembali. tentang paradigma pendidikan kita. Mengutip nasihat Ust. Fauzil Adhim "Sudah saatnya kita merenungkan kembali pendididkan kita. Tugas sekolah adalah mengantar anak didik untuk menjadi manusia , mengerti tugas hidupnya dan mampu memberi manfaat bagi umat manusia. Kita rangsang mereka untuk mampu memegang nilai hidup yang menggerakkan mereka untuk bertindak. Artinya, nilai hidup itu haruslah menjadi daya penggerak bagi hidup mereka. Bukan sekedar untuk menjadi bahan hafalan yang dicerna secara kognitif belaka.
Para orang tua dan guru sering menyuruh anak belajar agar pintar, tapi mereka tidak mengajarkan untuk apa pintar atau kepintaran itu seharusnya digunakan untuk apa. Lebih ironis lagi, pintar itu sama dengan angka 8, angka 9 untuk sangat pintar dan 10 untuk luar biasa pintar. dari mana anka itu diperoleh tidak penting lagi. dan disinilah bencana itu bermula. anak-anak belajar untuk melakukan penipuan bernama mencontek. Satu bentuk kejahatan yang lebih sering kita sebut sebagai kelalaian" Nah..

Guru Terbaik
Sungguh kita merindukan pendidik dengan karakter ibunda dan ayahanda guru anak-anak laskar pelangi itu. Mereka telah menjadi guru yang baik, yang mentransfer ilmu dan pemahaman kepada anak-anaknya, bahkan lebih baik dari itu telah menjadi tokoh sentral keteladanan anak-anaknya. Dan lebih dari itu semua, mereka telah menjadi guru terbaik, sebagai mata air inspirasi untuk semua.
Ambon, Mei 2008

KETIKA BATU BICARA

Ketika Batu Bicara ; Antara Makassar dan Jalur Gaza

Jalur Gaza, Palestina
"Ketika anak-anak itu telah beranjak besar dan telah bisa melempar batu, maka saat
itu, mereka bukan milik kami lagi, mereka telah menjadi anak-anak bangsanya' Begitulah seorang Ibu palestina mengenang. anak-anak muda itu akan berlari bergelombang, bergabung dalam barisan intifadhoh. menghadang tank penjajah Yahudi (Laknatullah alaih) dengan tubuh kecil mereka, membalas peluru dengan lemparan batu.

Makassar, Indonesia

Jam kuliah belum lagi selesai, ketika anak-anak muda dengan label mahasiswa berlarian bergelombang, penuh semangat dengan aroma kemarahan. Kampus sebagai ranah intelektual,tiba-tiba menjadi mendung, disusul hujan batu seketika. Anak-anak muda itu saling berbalas lemparan batu dengan batu.

Dan b
atu pun bicara
Demik
ianlah ketika batu batu berbicara di Palestina,Lemparan batu mungkin tak memberi efek yang banyak secara fisik bagi sang panjajah, tapi batu-batu mereka telah berbicara pada dunia, bahwa perlawanan mereka tak pernah berhenti. Batu-batu itu adalah bukti eksistensi mereka. Dan batu adalah simbol dan semangat yang membakar perlawanan. dan anak-anak Palestina tak akan pernah kehabisan batu-batu untuk melawan.

Demikian pula disebuah sudut makassar, batu-batu kerap berbicara membungkam logika dan kejernihan berpikir dari anak-anak muda yang notabene adalah seorang "intelek". tapi batu terlanjur bicara, entah atas nama apa, dan untuk siapa, dan ataukah acara saling lempar batu
telah menjadi bagian kurikulum tahunan sebagai materi pengkaderan dengan tema sentral " Mengukur kadar solidaritas dan militansi"?
Wallahu `alam
Ambon, 6 Mei 2008

Jumat, 02 Mei 2008

Masih tentang perjalanan


Pengalaman diantara kegagalan, kesedihan dan kabar gembira adalah guru yang tutur tentang pelajaran yang amat berharga. Lalu waktulah yang merawatnya, membiarkannya tumbuh untuk menggapai garis kesadaran. Kemudian dititik ini kita menjadi pembelajar bila kita mampu memetik hikmah dari buah tutur pengalaman yang dirawat oleh waktu dengan sabar.