"Kita berhak mencintai siapa saja, dan adalah hak Allah untuk untuk ditaati Syariatnya"
Suatu siang, beberapa tahun silam, berbincang di halaman sebuah masjid, ketika seorang sahabat tiba-tiba bertanya, "apakah engkau percaya pada cinta sejati"? Saya tak menjawab, hanya tersenyum. Menurutnya banyaki orang yang awalnya saling mencinta, kemudian tiba-tiba saling membenci. Kenyataanya banyak orang yang mulanya berkasih sayang kemudian saling bermusuhan. Lalu kami pun berpisah membawa imajinasi masing-masing. Bertahun kemudian, pada suatu malam, duduk di tepi jalan, ketika sahabat yang sama waktu itu, kembali membuka cerita tentang cinta. Tak lagi bertanya, ia justru bercerita tentang pencariaanya, tentang perjalanan cintanya yang tak sampai, malah membuatnya mengerti tentang cinta, cinta yang jujur, tegasnya demikian. Bahwa cinta tidak berlokus di dalam diri, tapi berorientasi pada yang dicinta. Cinta pada maqam ini, tak lagi perlu diberi, tapi selalu ingin memberi. Tak butuh dilayani justru berbahagia dengan melayani. Kebahagiaan sang pencinta hadir ketika ia memberi, melayani bahkan berkorban. Saat itu cinta tak harus memiliki, karena mencintai tidak terbatasi dimensi ruang dan waktu, bisa dimana saja dan setiap saat. Gagal memiliki tidak berarti gagal mencintai. Saya pun kembali tersenyum, tak banyak komentar. Sebab saya memang tak banyak mengerti tentang cinta. Yang saya tahu, bahwa cinta itu suci, maka jangan dibunuh rasa itu, tapi bingkailah dengan cahaya.Maka selamat mencinta kawan...-nuas-* Untuk sahabatku Halfian "phiank" Syam di Makassar, yang diam-diam saya belajar banyak darinya. Ana uhibbuka fillah akhi.. Ambon, Mei 2008
Waktu SD dulu, saya masih terlalu polos untuk mengerti untuk apa mencontek.Tiba di SMP, waktu itu kelas satu, untuk pertama kali saya terheran-heran peda seorang teman yang tanpa malu-malu mencontek, mencuri jawaban dari sebuah buku catatan di balik meja.
Saat SMA keheranan pun bertambah-tambah. Ujian sekolah bersinonim dengan musim mencontek. Kiri kanan depan belakang semua mencontek. Mereka adalah para profesional dalam hal ini. sampai genap sempurna keheranan saya, ketika UAN (Ujian Akhir Nasional) waktu itu masih disebut EBTANAS. Seorang guru tiba-tiba masuk ruangan ujian, dengan wajah sok dermawan membagi potongan kertas berisi jawaban ujian, hebatnya pengawas pun meng"amin"kan. Luar biasa bukan? Bila guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari. Tapi, di sekolah kami guru dan murid kencing di celana, sama-sama mabok.Begitupun saat belajar di sekolah kedokteran, saya bersyukur bertemu dengan orang-orang cerdas dan hebat-hebat. Tapi saya masih dibikin heran. Kelas ini adalah kelas elit, tempat para calon dokter ditempa. Ternyata idealisme dan integritas tak banyak menemukan orang-orangnya. Praktek nyontek pun dilakoni dengan trik yang lebih komplit dan tentunya lebih elit.Dan hari ini saya tak lagi akrab dengan institusi pendidikan formal, ingin tau apa lagi yang terjadi, saya mencoba mengontak seorang teman lama yang kini telah menjadi seorang guru, dan katanya beliau lagi sibuk, tepatnya sibuk menyiapkan jawaban untuk ujian akhir murid-murid mereka...he..he. Namun saya tak lagi heran, karena heran saya telah lama punah. Inilah wajah bergincu pendidikan kita. Memoles wajahnya dengan coreng hitam dan kepalsuan.Justru Heran itu hadir kembali, ketika mendengar kabar para siswa kelas VI SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) menolak diberi contekan dan mengatakan pada pengawas "tidak usah pak, itu dosa". Ini baru dahsyat.Tapi makhluk apakah ia gerangan, masih diperlukan waktu agar ia menjadi bilangan dominan untuk menjadi trend baru yang akan didedikasikan bagi umat dan bangsa ini.Selamat datang anak-anak muda harapan, sehat akalnya, cerdas pikirannya, dan suci imannya. Di pundakmulah masa depan umat dan bangsa ini kelak di kokohkan.-nuas-* Salam Hormat buat Uzt Hamzah, seorang pendidik di SDIT Ar Rahmah Makassar... Kapan outbound lagi uzt?? Ambon, 12 mei 2008
Berbekal bonus SMS gratis, saya mencoba memautkan tali silaturrahim dengan sahabat-sahabat jauh. Saya hubungi satu-satu, bertanya kabar dan tak lupa bertanya posisi sekarang. Ketika SMS berbalas satu persatu. tiba-tiba saya merasa tersadar, sungguh kita telah berpencar jauh. Menyusur jalan takdir kita masing-masing.Nun di sana di Tanah Rencong Aceh, Terserak di tanah Jawa, bertaburan di rimba Borneo, Tanah Sulawesi, Ternate, Nusa Tenggara sana, sampai ke pedalaman Papua. Bertebaran di pelosok nusantara.Ini membawaku kembali pada kenangan tentang sebuah rumah besar, rumah tempat kita ditempa bersama, dibentuk bersama, menemukan dan membesarkan cita-cita bersama, tertawa dan belajar bersama. Rumah tempat idealisme di rawat dan dibesarkan.Padu mengabdiLalu inilah saat, ketika semua yang telah kita dapat dan tumbuhkan bersama di rumah itu dulu dibumikan. Bahwa idealisme tak sekedar retorika dan sebatas wacana atau gurauan anak muda. Bukan untuk ditinggalkan berserakan di koridor-koridor dan lantai putih rumah kita.Bertebaranlah di penjuru negeri mengamalkan ilmu dan keahlian.Inilah saat Ilmu, Iman dan amal padu mengabdi.Lalu saya ingi mengenang lagu kebanggan, saat pertama kali menjejakkan kaki di halaman rumah besar kita tempo hari...Didesa dan di kotabagiku sama saja walaupun di tengah malamtugas tetap harus ku jalankan (Balada dokter kontrak)Teriring salam untuk Teman-teman Sejawat di manapun berada. Ingat sebuah pesan guru untuk profesi kita. Noblese Oblige... bahwa dalam kemuliaan (profesimu) bersamanya ada tanggung jawab.-nuas- Ambon, 12 mei 2008
" Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu beruntung" (al- A`raf : 69)Berpuluh tahun yang lalu, adakah kita pernah mebayangkan akan hidup di dunia ini. Lengkap dengan kesempurnaan yang kita miliki. Mempunyai tubuh yang kokoh, mempunyai mata yang dengannya kita menatap warna dan membaca semesta. Memiliki telinga yang dengannya kita mendengar gerimis jatuh perlahan, mendengar lantunan anak mengaji, ataukah tangisan bayi yang membahagiakan itu. Mempunyai akal yang dengannya kita memahami dan tau arti. Punya jiwa yang dengannya kita mencinta dan menyayangi.Maka, apakah yang telah kita syukuri hari ini?Sungguh betapah indah mengenang masa kecil kita, berlarian, berebutan, berkelahi, bercanda, bahkan tangisnya pun tetap membuat kita tersenyum. Semua penuh suka cita, genap kebahagiaan.Padahal waktu itu belum punya apa-apaSedangkan waktu itu kita tak ada daya apa-apabukankah waktu itu kita bergantung sepenuhnya?Maka apakah yang telah kita syukuri hari ini?Lalu mengapa kita merasa susah?Mengapa kita merasa sempit dalam hidup ini?Mengapa kita merasa gagal dalam cita-cita?Mengapa kita merasa hancur dan mendapat musibah?Mengapa kita merasa menjadi korban?Mengapa kita merasa jalan buntu dan pintu tertutup?Mengapa kita merasa kehilangan semangat dan prasangka baik?Mengapa kita bersedih?Pantaskah kita bersikap demikian?Mana senyum itu?Mana tawa itu?Mana suka cita itu?Mana bahagia itu?Mana syukur itu?..." Jika engkau bersyukur, maka akan kutambahkan (nikmat-Ku), dan jika engkau kufur (ingkar), sesungguhnya siksa-Ku amat pedih ( Ibrahim: 7)Maka beruntunglah orang yang bersyukur yang akan mujur dan makmur. Dan yang tak pandai bersyukur, tunggulah ia akan hancur dan lebur.Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu "Bersyukurlah kepada Allah. dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa kufur (tidak bersyukur),sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".(Luqman : 12)-nuas-
* Seperti yang ditulis Ust Abdurrahman Muhammad Pimpinan Umum Hidayatullah dengan sedikit gubahan. Termakasih kepada Uzt. atas nasihat dan inspirasinya.
Ambon, Mei 2008
"Dapat kugambarkan profilMujahid sejati dalam diri seseorang yang siap mengambil bekal dan memenuhi perlengkapannya. Seluruh dirinya -seluruh sudut hati dan jiwanya- didominasi pikiran seputar perjuangan. Ia dalam pemikiran selalu, perhatian yang besar dan persiapan yang senantiasa" ( Imam AlBanna)
Menepi dari jalan ramai dan memilih kesunyian, menapaki pendakian yang senyap, tikungannya sepi, sesekali hanya terdengar gemerisik dedaunan saling bergesek mempertegas keheningan. Ada begitu banyak duri disana, lorong-lorongnya gelap, berkelok panjang bahkan tak berani menerka ujungnya di mana. Siapkah engkau..?
Dibutuhkan keberanian, harus melimpah keteguhan dan nafas panjang kesabaran bila engkau ingin menapakinya. Namun hidup adalah pilihan, aku dan engkau pun harus memilih jalan.
Jalan Para Pahlawan
Jalan sunyi, tak banyak yang ingin ke sana karena ini adalah jalan kesungguhan, jalan yang disuguhi tantangan dan beratnya ujian, inilah jalan para pahlawan, mereka yang memilih untuk berjuang. Dan demikianlah tabiatnya, jalan kepahlawanan sungguh berat, ada banyak godaan bersamanya. Di sini harta, perasaan bahkan darah bukan hal yang mahal untuk dikorbankan.
Jalan sunyi, tak banyak yang ingin ke sana, itulah sebabnya ia sunyi. Tak ada lagu dan pujian di sini, itulah mengapa ia sepi. Juga tak ada gurau dan gincu di sini, itulah alasan ia hening. Demikianlah wataknya, manusia cenderung menjauhi kesulitan.
Siapakah pemilik jalan itu
Maka akan kau temukan di jalan itu orang-orang dengan atribut kemulian. " Pergi pulangnya, tutur bahasanya, sungguh-guraunya, tak melampaui garis batas medan juang yang ia siapkan dirinya untuk itu.... Nampak jelas pada kerut-raut wajanya, dalam kilat matanya dan terdengar pada luncuran tutur lisannya, segala indikasi kesungguhan yang lekat dan duka yang dalam, berkobar dalam hatinya serta azzam yang sungguh, semangat yang tinggi serta semangat yang jauh kedepan, sebagai luapan jiwanya".( ust Rahmat Abdullah; Pilar2 Azasi).
Adakah engkau juga ingin bergabung...?-nuas-
Ambon, Mei 2008