Maafkan ayah nak, seharusnya ayah disisimu saat ini menemani hari-harimu yang masih amat belia sebagaimana rupamu yang masih saja merah. Membersamai bundamu dalam malam-malamnya yang kehilangan waktu tidurnya, tak lelah mengurus dirimu. Sepantasnya memang aku disana, setidaknya turut membantu meski tak banyak walau hanya membantu menggantikan popokmu yang basah.
Maafkan ayah nak, bahwa pada akhirnya ayah harus berangkat juga, ke tempat yang jauh ini, menggenapkan tugas yang belum selesai. Kelak akan kuceritakan tentang tanah ini, sebuah tanah yang sangat indah mengangumkan, juga sangat kaya. Pantai yang panjang berkelok tak habis-habis berpagar nyiur-nyiur yang berkawan dengan angin. Ombak yang tak pernah berhenti berpesta berkejaran tak selesai. Sesekali lumba-lumba datang ikut bermain. Senja dan purnama adalah kisah yang tak kan kulewatkan, dari dermaga yang tenang bila kau menemuinya ia bisa membuatmu bergetar mungkin sampai menangis. Lalu anak-anak disini adalah kumpulan para pemberani, didikan alam yang tangguh, sahabatnya adalah lautan maka ombak dan badai adalah temanya berbagi suka dan duka. Orang-orang tuanya adalah sahabat yang hangat, sejawat yang setia, juga guru yang bijaksana. Mereka terampil memaknai arti persaudaran.
Sungguh ayah rindu nak, pada suara tangismu yang tak biasa, tapi pekikan keras yang kusangkakan itu adalah tangis perlawanan pada dunia yang durjana tempat kesejatian dipalingkan dan di asingkan jauh-jauh. Dunia yang kau hadiri hari ini nak, adalah dunia yang semakin menyesakkan nurani, maka engkau tiba pada hari-hari yang semakin sulit. Namun ayah percaya kelak kau akan menunjukkan bahwa dunia ini adalah nista dimatamu. Ayah rindu nak, pada bening bola matamu, tatapanmu yang teduh dan bersih, laksana lautan di musim yang tenang, amat bersahaja. Mata yang kukenali sangat serupa dengan mata seorang perempuan yang melahirkanmu. Ayah juga sangat rindu nak, pada wangi tubuh dan lembut sentuhanmu, kudoakan semoga akhlak juga hatimu jauh lebih harum dan lembut dari sekedar lahiriahmu.
Sungguh ayah rindu nak, dengan semua yang ada pada dirimu.-n
Banggai, 3 Januari 2011-16.01
Kamis, 02 Juni 2011
Sekedar Mengenang (Asrama Medica)*
Dinding dan langit-langit kamar itu kini tentu kesepiaan, ia yang setia menjadi saksi gemuruh semangat memenuhi ruangnya yang tak lapang. Semangat yang sering kali galau dipatah kecemasan dan katakutan tak beralasan. Semangat yang kemudian tumbuh lagi oleh tekad dan nasihat dari jauh atau oleh sesosok makhluk indah yang senyumnya begitu teduh. Lalu ia patah lagi terus bertunas lagi seperti musim yang senang bertukar.
Dan waktu yang demikian panjang itu, akhirnya menyaksikan bahwa pada saatnya semangat itulah yang menjadi pemenang, tak menyerah oleh tantangan dan ujian. Hingga tiba ketika dinding dan langit-langit kamar itu kesepian ditinggal berlalu, merindukan kata-kata yang sering dituliskan dengan tintah merah dan warna hijau..tentang semangat juga tentang amarah, idealisme dan cinta.
Tentang semua kenangan yang manis nian… Masih ingatkah engkau kawan, di rumah itu???
*Untuk sahabat, dr. Laode Awal Akram
Makassar, November 2010
Dan waktu yang demikian panjang itu, akhirnya menyaksikan bahwa pada saatnya semangat itulah yang menjadi pemenang, tak menyerah oleh tantangan dan ujian. Hingga tiba ketika dinding dan langit-langit kamar itu kesepian ditinggal berlalu, merindukan kata-kata yang sering dituliskan dengan tintah merah dan warna hijau..tentang semangat juga tentang amarah, idealisme dan cinta.
Tentang semua kenangan yang manis nian… Masih ingatkah engkau kawan, di rumah itu???
*Untuk sahabat, dr. Laode Awal Akram
Makassar, November 2010
Label:
catatan hati,
kenangan,
medica
Berangkatlah...
Berangkatlah kawan…jangan berdiam lebih lama, jejaki tanah-tanah yang jauh, di tanah yang asing, tempat yang bahkan namanya tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Jangan berikan rasa ragu pada langkah itu, bebaskan ia mengalir, seperti arus yang merindukan lautan, bergerak tak gamang dan tanpa rasa takut.
Tak perlulah khawatir, sebab di sana teriknya tak berbeda dengan hangat mentari yang menggantung di langit kita setiap hari di sini, angin dan badainya akan menjadi kenangan suka duka mengharukan yang akan membuatmu menjadi lebih kuat, orang-orangnya akan menjadi sahabat dan saudaramu yang baru, tempat berbagi dan menyerap pelajaran tentang makna persaudaraan.
Lalu bagaimana dengan kerinduan, kepada orang-orang tercinta, orang tua, guru, para sahabat, atau siapapun mereka yang telah mengambil tempat di hati terdalam? Satu dua hari mungkin ia akan mengganggumu, ini memang sangat manusiawi kawan. Tapi berikutnya engkau akan terbangun pada sebuah pagi dengan tekad yang sadar bahwa karya harus segera di mulai. Dan setelah itu kerinduanmu akan berubah menjadi doa-doa yang kuat. Menjelma menjadi nyala yang membakar semangatmu.
Di perjalanan itu akan engkau temukan saripati kehidupan, ketika hadir pada kenyataan hidup yang sesungguhnya, melihat sendiri, mendengarkan sendiri, dan ikut merasakan sendiri tanpa perantara sebagaimana apa yang mereka rasakan, larut bersama mereka yaitu orang-orang yang paling berhak atas amanat yang tersemat di pundak kita. Akan engkau temukan bahwa hidup ini jauh lebih pelik dari yang pernah dibicarakan buku-buku teks terlengkap sekalipun.
Dan jangan lupa gembirailah persinggahan-persinggahanmu, pada riak gelombang, pundak-pundak bukit sampai ceruk sungai yang jauh, ataukah jalan yang mengular di padang sabana yang luas, nikmati semua, dan temukan hikmah di sana, di setiak jejakmu, pada tanah, laut, angin atau orang-orangnya, temukan padanya makna bersayap-sayap yang akan membawamu semakin meninggi ke maqam kearifan.
Bergeraklah untuk merebut mimpi dan menggenapkan serpihan takdirmu, sekaligus membumikan ilmu dan pengabdian, di perjalanan itu engkau juga pada akhirnya akan mengerti bahwa salah satu pintu memasuki kebahagiaan hidup yaitu melalui ketulusan berbagi dan memberi. Bahwa kebahagiaan adalah apa yang kita rasakan di dalam diri ketika bisa membuat orang lain berbahagia.
Lalu dari tempat-tempat yang jauh itu, engkau pun akan membagi cerita tentang pengalaman, tentang semangat dan idealisme yang tak boleh surut, atau tentang apa saja yang akan menjadi saksi bahwa di bawah matahari selalu ada anak muda yang siap mengabdi untuk kemanusiaan.-n
*Untuk seorang kawan yang segera memulai jalan pengabdiaanya di sebuah kota di timur tenggara, Manggarai NTT. Salama’ki dottoro
Negeri Seribu Nyiur, Bunta-Banggai, Malam 12 Ramadhan 1431 H
Tak perlulah khawatir, sebab di sana teriknya tak berbeda dengan hangat mentari yang menggantung di langit kita setiap hari di sini, angin dan badainya akan menjadi kenangan suka duka mengharukan yang akan membuatmu menjadi lebih kuat, orang-orangnya akan menjadi sahabat dan saudaramu yang baru, tempat berbagi dan menyerap pelajaran tentang makna persaudaraan.
Lalu bagaimana dengan kerinduan, kepada orang-orang tercinta, orang tua, guru, para sahabat, atau siapapun mereka yang telah mengambil tempat di hati terdalam? Satu dua hari mungkin ia akan mengganggumu, ini memang sangat manusiawi kawan. Tapi berikutnya engkau akan terbangun pada sebuah pagi dengan tekad yang sadar bahwa karya harus segera di mulai. Dan setelah itu kerinduanmu akan berubah menjadi doa-doa yang kuat. Menjelma menjadi nyala yang membakar semangatmu.
Di perjalanan itu akan engkau temukan saripati kehidupan, ketika hadir pada kenyataan hidup yang sesungguhnya, melihat sendiri, mendengarkan sendiri, dan ikut merasakan sendiri tanpa perantara sebagaimana apa yang mereka rasakan, larut bersama mereka yaitu orang-orang yang paling berhak atas amanat yang tersemat di pundak kita. Akan engkau temukan bahwa hidup ini jauh lebih pelik dari yang pernah dibicarakan buku-buku teks terlengkap sekalipun.
Dan jangan lupa gembirailah persinggahan-persinggahanmu, pada riak gelombang, pundak-pundak bukit sampai ceruk sungai yang jauh, ataukah jalan yang mengular di padang sabana yang luas, nikmati semua, dan temukan hikmah di sana, di setiak jejakmu, pada tanah, laut, angin atau orang-orangnya, temukan padanya makna bersayap-sayap yang akan membawamu semakin meninggi ke maqam kearifan.
Bergeraklah untuk merebut mimpi dan menggenapkan serpihan takdirmu, sekaligus membumikan ilmu dan pengabdian, di perjalanan itu engkau juga pada akhirnya akan mengerti bahwa salah satu pintu memasuki kebahagiaan hidup yaitu melalui ketulusan berbagi dan memberi. Bahwa kebahagiaan adalah apa yang kita rasakan di dalam diri ketika bisa membuat orang lain berbahagia.
Lalu dari tempat-tempat yang jauh itu, engkau pun akan membagi cerita tentang pengalaman, tentang semangat dan idealisme yang tak boleh surut, atau tentang apa saja yang akan menjadi saksi bahwa di bawah matahari selalu ada anak muda yang siap mengabdi untuk kemanusiaan.-n
*Untuk seorang kawan yang segera memulai jalan pengabdiaanya di sebuah kota di timur tenggara, Manggarai NTT. Salama’ki dottoro
Negeri Seribu Nyiur, Bunta-Banggai, Malam 12 Ramadhan 1431 H
Label:
catatan perjalanan,
inspirasi,
medica,
petualang
Senin, 10 Mei 2010
Tetaplah Bertahan

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-ankabut: 2)
Seharusnya keimanan, kejujuran, keikhlasan, dan semua komitmen idealis lainnya adalah pilihan yang tak bisa lagi ditawar. Bahwa seluruh komitmen tersebut adalah prasyarat sebuah pemuliaan diri, yang tak sekedar dibunyikan sebagai sebuah klaim verbal, namun ia butuh dihidupkan dalam setiap gerak ruas tubuh kita, bahkan dalam diam pun seharusnya adalah pemaknaan dari komitmen itu. Melekat dan bersenyawa dalam diri yang dengannya kita menjadi, dengannya kita disebut.
Ini memang pilihan yang tak mudah, pilihan yang akan menyita perhatian dari seluruh jatah umur kita, pilihan yang tak ingin memberikan ruang pada diri untuk sejenak mengambil waktu dan kemudian abai dari menjaganya. Pilihan yang akan menguras energi kesabaran kita. Inilah komitmen yang meletihkan, sebab ia adalah kesibukan yang tak selesai, kerja yang tak habis-habis. Setiap saat harus selalu dikuatkan, senantiasa harus dibela, tak kenal waktu dan tak peduli medan, ia harus selalu dimenangkan dari tarikan-tarikan yang menggodanya.
Demikianlah kenyataanya, karena hidup berjalan pada titian yang penuh tipu daya, panggilan-panggilan syahwat memenuhi kiri kanannya. Jebakan-jebakan pseudosurgawi yang melenakan. Sehari berjalan dijalur yang sejati, mungkin terjatuh esok hari, lalu lusa berbelok lagi, selajutnya lupa pada jalan pulang lagi.
Namun apakah ini akan membuat kita mundur, merasa ciut pada tantanganya, lalu hendak menimbang ulang pada keputusan untuk bertahan? Maka ketahuilah olehmu wahai putra dan putri peradaban, mereka yang meninggikan azamnya bagi kemuliaan, mereka yang telah menegakkan keyakinannya untuk kejayaan, tentu tak ada alasan demi membatalkan pilihan untuk tetap setia pada komitmen itu.
Mereka sungguh telah mengetahui bahwa tidaklah teguh sebuah iman sebelum ia diuji, seperti kejujuran barulah disematkan ketika ia berani berkata tidak pada godaan-godaan yang mencederai komitmennya, sebagaimana keihklasan yang murni karena ia bertahan untuk tidak memilih jalan kecuali yang disiapkan untuknya, dan juga semua komitmen idealis lainnya tegak setelah melalui ujiannya masing-masing.
Maka seharusnya pun kita di sini juga masih tetap gagah berdiri, bangga pada jalan yang telah kita pilih. Sebuah jalan yang tak lagi boleh ditawar, jalan yang kita mengerti akan membawa pada ketinggian maqam di sisi-Nya. Dan semoga kita bisa istiqomah untuk tetap berkata tegas; “…aku akan bertahan pada pendirian ini, bahkan bila semua orang meninggalkanku sendirian”.-n
Bunta Banggai, 20.54 Wita 16 April 2010.
Tadzkirah
Dari Ibnu Umar ra. Berkata : “ Rasulullah saw memegang pundakku dan bersabda, Jadilah engkau seperti orang asing atau penyeberang jalan.”
Ibnu Umar berkata, ” jika kamu berada di sore hari, jangan engkau menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore hari, ambillah persiapan saat engkau sehat, untuk menghadapi masa sakitmu dan saat hidupmu untuk sesudah kematianmu” ( HR Bukhari)
Kita hanyalah seorang pendatang, yang niscaya akan kembali jua ke sumber yang azali, ke
rumah tempat pulang yang abadi. Entah itu esok hari, ataukah sekian puluh tahun lagi, bahkan adakah yang menjamin kalau nafas berikutnya masih milik kita lagi? Tak ada yang tahu.
Kita hanyalah peziarah yang singgah tak lama di tempat ini, datang dengan sebuah perjajian yang sungguh tak ringan, hadir dengan membawa amanah langit, tugas penghambaan sekaligus amanah kepemimpinan.
Tak mudah memang perjalanan ini, sebab ujian datang pada seluruh bagian dari hidup kita, hadir pada setiap gerak dan bahkan pada diam kita. Tarikan-tarikan yang menggoda untuk berlepas diri dari jalan idealis itu selalu tampak menggiurkan dan melenakan. Bahkan tantangan terbesar yang mesti kita kalahkan datang dan berdenyut bersama urat nadi kita, ialah kecendrungan syahwati.
Demikianlah perjalanan kehidupan ini, tidaklah mampu bertahan untuk setia menekuni jalan kemuliaan dan menapaki langit ketinggian kecuali mereka yang memiliki nafas keteguhan yang paling panjang. Maka perlu ada tradisi penguatan di sini, sebuah tradisi iman, waktu dimana kita berhenti sejenak, mengambil cermin kejujuran, melihat diri kita apa adanya. Menegakkan neraca dan menakar bobot kita seutuhnya. Mengukur ulang perjalanan, karya dan amal apa yang telah lahirkan. Sekaligus sebagai sarana untuk mengisi ulang kekuatan ruhiyah, untuk kembali meneguhkan azzam dan keyakinan. Karena sungguh sejatinya nilai kita dimata kebenaran adalah gerak yang kita selesaikan dalam karya dan amal, diluar itu hanyalah kesiaan.
Inilah hari kerja, waktu amal, saat berkeringat dan letih, kesempatan yang diberikan untuk menuntaskan janji agung kita sebagai hamba, untuk setia mengabdi sampai jatah nafas kita usai.
Hari ini adalah hari-hari memaknai, menyempurnakan kemuliaan, mengalahkan kejumudan, pembebasan diri dari kemelakatan terhadap dunia.
Sampai akhirnya ketika masa kembali itu tiba, kita dapat pulang menghadapkan wajah hati kita dengan berseri-seri, tanpa ragu dan tidak kehilangan nyali. InsyaAllah!-n
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al quran Surah Al Hasyr 18)
Banggai, 26 April 201
Ibnu Umar berkata, ” jika kamu berada di sore hari, jangan engkau menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore hari, ambillah persiapan saat engkau sehat, untuk menghadapi masa sakitmu dan saat hidupmu untuk sesudah kematianmu” ( HR Bukhari)
Kita hanyalah seorang pendatang, yang niscaya akan kembali jua ke sumber yang azali, ke
rumah tempat pulang yang abadi. Entah itu esok hari, ataukah sekian puluh tahun lagi, bahkan adakah yang menjamin kalau nafas berikutnya masih milik kita lagi? Tak ada yang tahu.
Kita hanyalah peziarah yang singgah tak lama di tempat ini, datang dengan sebuah perjajian yang sungguh tak ringan, hadir dengan membawa amanah langit, tugas penghambaan sekaligus amanah kepemimpinan.
Tak mudah memang perjalanan ini, sebab ujian datang pada seluruh bagian dari hidup kita, hadir pada setiap gerak dan bahkan pada diam kita. Tarikan-tarikan yang menggoda untuk berlepas diri dari jalan idealis itu selalu tampak menggiurkan dan melenakan. Bahkan tantangan terbesar yang mesti kita kalahkan datang dan berdenyut bersama urat nadi kita, ialah kecendrungan syahwati.
Demikianlah perjalanan kehidupan ini, tidaklah mampu bertahan untuk setia menekuni jalan kemuliaan dan menapaki langit ketinggian kecuali mereka yang memiliki nafas keteguhan yang paling panjang. Maka perlu ada tradisi penguatan di sini, sebuah tradisi iman, waktu dimana kita berhenti sejenak, mengambil cermin kejujuran, melihat diri kita apa adanya. Menegakkan neraca dan menakar bobot kita seutuhnya. Mengukur ulang perjalanan, karya dan amal apa yang telah lahirkan. Sekaligus sebagai sarana untuk mengisi ulang kekuatan ruhiyah, untuk kembali meneguhkan azzam dan keyakinan. Karena sungguh sejatinya nilai kita dimata kebenaran adalah gerak yang kita selesaikan dalam karya dan amal, diluar itu hanyalah kesiaan.
Inilah hari kerja, waktu amal, saat berkeringat dan letih, kesempatan yang diberikan untuk menuntaskan janji agung kita sebagai hamba, untuk setia mengabdi sampai jatah nafas kita usai.
Hari ini adalah hari-hari memaknai, menyempurnakan kemuliaan, mengalahkan kejumudan, pembebasan diri dari kemelakatan terhadap dunia.
Sampai akhirnya ketika masa kembali itu tiba, kita dapat pulang menghadapkan wajah hati kita dengan berseri-seri, tanpa ragu dan tidak kehilangan nyali. InsyaAllah!-n
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al quran Surah Al Hasyr 18)
Banggai, 26 April 201
Langganan:
Postingan (Atom)