Selasa, 27 Mei 2008

Tersenyumlah


Pernahkah engkau menemukan senyuman yang teramat indah, seelok merah jambu, setenang lubuk nan jauh, damai, menatapnya seolah senyum itu berkata 'aku akan menjagamu', dalam tak terduga, menerobos masuk kepori-pori perasaan, lalu berdiam disana, sejuk, tenang. ai...ini pasti senyuman yang jujur berasal dari dalam hati, bukan sekedar tarikan sudut bibir. Sungguh saya pernah menemukannya.


Tersenyumlah
.
Tersenyum pada saudaramu, karena ia adalah hadiah. Pemberian yang menguatkan ikatan. Senyum adalah bahasa jiwa, sapaan yang tak membutuhkan kata-kata, ungkapan kehalusan, tawaran maksud baik, pemecah kebuntuan, panawar kebekuan, pertanda keikhlasan. Ia adalah ungkapan cinta, seperti kembang tanpa duri, indah, harum, tak melukai.
Tersenyumlah
.
Tersenyum pada hari-hari, cita-cita dan rencanamu. Karena ia adalah bukti kesungguhan dan keteguhan. Ia merangkum kekutan dalam satu simpul. Ketenangan, kematangan, kearifan, terjalin menjadi satu, memesona.
Tersenyumlah
.
Tersenyum pada sang mentari yang bersinar keemasan, pada rembulan yang bercahaya keperakan, pada angin yang membawa harapan, pada bintang yang gemerlap seperti lampu bergantung tanpa tangkai, pada pelangi yang sumringah, pada pucuk yang merekah, pada gunung yang teguh nan anggun, pada burung yang terbang bebas, pada laut yang dalam tak terduga, pada semesta. Tersenyumlah pada segenap peserta jagad raya. Karena ia adalah pertanda persahabatan, ungkapan persahabatan sekaligus penjagaan.
Tersenyumlah
.
Tersenyum pada Tuhanmu, tersenyum dengan sepenuh prasangka baik atas segala takdirnya. Karena ia pertanda ketundukan sekaligus ungkapan kesyukuran.
Maka tersenyumlah...dan berbahagialah karena sungguh senyum itu berbuah surga.-nuas-

Ambon, 27 Mei 2008

Kamis, 22 Mei 2008

Bangkitlah Indonesiaku

Sebuah Catatan Kecil Se-abad Kebangkitan Nasional

...
perahu negeriku
perahu bangsaku
jangan retak dindingmu...

Seabad adalah waktu yang telah relatif lama, kita bersama di gerbong besar bangsa ini. Perjalanan telah cukup jauh, telah banyak persimpangan sejarah kita lewati bersama, tikungan tajam, tanjakan dan penurunan sama kita lalui. Hari ini adalah saat yang baik untuk refleksi atas perjalanan kita bersama di gerbong besar ini. mari kita istirahat sejenak, mengambil jeda dan memetakan ulang rencana perjalanan kita.
Tentu menguras tenaga perjalanan ini, banyak pemendangan-pemandangan indah di sisi jalan tak sempat kita rekam, momen momen mengagumkan terlewat begitu saja. Sementara
banyak keributan-keributan kecil, bahkan kecelakaan-kecelakaan beruntun menguras ketegangan kita. Suara-suara tak karuan, jerit tangis tertahan, umpatan, perdebatan, ketidak harmonisan sesama penumpang gerbong menambah kepenatan fisik, perasaan dan pikiran. Belum lagi cuaca yang sering tak bersahabat akhir-akhir ini, menambah kegalauan hati.
Mari kita singgah sejenak, mengukur apa yang telah kita raih selama perjalanan ini. Telah silih berganti pemimpin mengambil kendali lokomotif gerbong besar ini, tapi kesejahteraan yang merata masih saja hanya menjadi mimpi para penumpang gerbong ini. Banyak jatah makan dicuri diam-diam atau diarampas dengan tega oleh segilitir orang, membuat penumpang yang lain kelaparan, dan anak-anak jatuh sakit kekurangan gizi. Masih ada watak tak adil dan pengkelasan penumpang kelas satu dan kelas dua atau kelas berikutnya, pengkotakan miskin dan kaya, pembedaan penumpang barat dan timur.
Lihatlah anak dan remaja malah terbius oleh budaya yang merampas masa depan mereka (yang berarti juga masa depan gerbong besar ini), mengkomsumsi obat terlarang seperti mereka makan suplemen penambah daya tahan tubuh, gagap terhadap apresiasi seni dan jumud memahami kemajuan, malah bangga dengan trend liar, jauh dari kesan beradab dan kehilangan rasa malu. Sementara bapak-bapaknya sibuk bertarung dan bertaruh siapa yang berhak menjadi punggawa gerbong, di lain waktu ibu-ibu ribut menyemangati gosip murahan, melupakan anak dipangkuan yang berhak belaian dan jatah ASI. Oh..betapa sungguh masih banyak paradoks pentas digerbong ini, setiap hari, bukan.. bahkan setiap saat, setiap jamnya, setiap menitnya.
Hari ini, seabad kita telah berjalan, mari kita lanjutkan cita dan harapan mulia pelopor perjalanan ini, untuk kita wariskan kepada generasi berikut tanpa rasa bersalah dan kehilangan rasa bangga. sudah saatnya kita bangkit bersama membawa gerbong besar ini ke tanah harapan yang kita idamkan bersama. Negeri sejahtera dan berkeadilan yang diridhoi oleh Allah pemilik semesta.
Kita semua punya peran dalam perjalanan ini. Berikanlah setangkai melati bila itu yang kita punya, atau sekuntum doa bahkan bila hanya itu yang tersisa, dan tentu kita bisa lebih dari itu semua. Atau sitidaknya jangan menjadi penumpang gelap yang membuat onar dalam gerbong dan membahayakn sesama penumpang.
Dengan niat yang suci, semangat yang teguh, dan optimisme yang menyala, kita melangakah bersama menuju bangsa yang lebih baik.
Bangkitlah Indonesiaku.-nuas-
Ambon, 20 Mei 2008

Minggu, 18 Mei 2008

Kembali


Kembalilah...
di sini
meneruskan cerita kita yang tak selesai
menggenapkan mimpi yang belum usai...

Kutanya padamu wahai diri...
Kepada siapakah engkau berteriak dan kepada siapakah engkau melawan?
Kepada duniakah? Yang mendemonstrasikan kedzaliman dengan sangat elegan.
Kepada budaya picisan dengan trend lokal dan interlokal murahan.
Kepada drama tragis kemanusiaan yang tak pernah selesai dipentaskan.
Kepada status quo yang tak gamang berdiri di atas tirani dan hirarki
Kepada siapakah..? Kutanya dirimu sekali lagi wahai diri...
Sementara dikamarmu sendiri tergeletak lesu idealisme.
Jauh di sudut hatimu ada jerit nurani yang tak jua kunjung berdamai.
Lihatlah, pada dirimu ada pengkhianatan jati diri, tinggallah identitas sejati bercengkrama dengan sepi dan jejaring laba-laba.
Bahwa melawan adalah sebuah keharusan, tuk mengalirkan gelisah dan sesak atas realitas kekinian.
Namun mutlak, perlawanan dimulai atas diri sendiri.
Men"tanah rata"kan bias atas kesucian niat, keihlasan, dan keteguhan.
Membunuh kelemahan jiwa, menaklukkan tiran yang menjajah jiwa.
Agar...teriakan itu tak menjadi seruan malu-malu tersapu angin lalu.
Agar sejarah diri tak hanya sekedar narasi yang sepi inspirasi.
Maka kembalilah...wahai diri, pada iman sejati, pada jati diri. -nuas-
Ambon, Mei 2008

Sabtu, 17 Mei 2008

Ketika Aku dan Kau Tak Menjadi Kita

"Kita berhak mencintai siapa saja, dan adalah hak Allah untuk untuk ditaati Syariatnya"

Suatu siang, beberapa tahun silam, berbincang di halaman sebuah masjid, ketika seorang sahabat tiba-tiba bertanya, "apakah engkau percaya pada cinta sejati"? Saya tak menjawab, hanya tersenyum. Menurutnya banyaki orang yang awalnya saling mencinta, kemudian tiba-tiba saling membenci. Kenyataanya banyak orang yang mulanya berkasih sayang kemudian saling bermusuhan. Lalu kami pun berpisah membawa imajinasi masing-masing.
Bertahun kemudian, pada suatu malam, duduk di tepi jalan, ketika sahabat yang sama waktu itu, kembali membuka cerita tentang cinta. Tak lagi bertanya, ia justru bercerita tentang pencariaanya, tentang perjalanan cintanya yang tak sampai, malah membuatnya mengerti tentang cinta, cinta yang jujur, tegasnya demikian.
Bahwa cinta tidak berlokus di dalam diri, tapi berorientasi pada yang dicinta. Cinta pada maqam ini, tak lagi perlu diberi, tapi selalu ingin memberi. Tak butuh dilayani justru berbahagia dengan melayani. Kebahagiaan sang pencinta hadir ketika ia memberi, melayani bahkan berkorban. Saat itu cinta tak harus memiliki, karena mencintai tidak terbatasi dimensi ruang dan waktu, bisa dimana saja dan setiap saat. Gagal memiliki tidak berarti gagal mencintai.
Saya pun kembali tersenyum, tak banyak komentar. Sebab saya memang tak banyak mengerti tentang cinta. Yang saya tahu, bahwa cinta itu suci, maka jangan dibunuh rasa itu, tapi bingkailah dengan cahaya.
Maka selamat mencinta kawan...-nuas-

* Untuk sahabatku Halfian "phiank" Syam di Makassar, yang diam-diam saya belajar banyak darinya. Ana uhibbuka fillah akhi..
Ambon, Mei 2008

Senin, 12 Mei 2008

Aku Heran...


Waktu SD dulu, saya masih terlalu polos untuk mengerti untuk apa mencontek.
Tiba di SMP, waktu itu kelas satu, untuk pertama kali saya terheran-heran peda seorang teman yang tanpa malu-malu mencontek, mencuri jawaban dari sebuah buku catatan di balik meja.

Saat SMA keheranan pun bertambah-tambah. Ujian sekolah bersinonim dengan musim mencontek. Kiri kanan depan belakang semua mencontek. Mereka adalah para profesional dalam hal ini. sampai genap sempurna keheranan saya, ketika UAN (Ujian Akhir Nasional) waktu itu masih disebut EBTANAS. Seorang guru tiba-tiba masuk ruangan ujian, dengan wajah sok dermawan membagi potongan kertas berisi jawaban ujian, hebatnya pengawas pun meng"amin"kan. Luar biasa bukan? Bila guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari. Tapi, di sekolah kami guru dan murid kencing di celana, sama-sama mabok.

Begitupun saat belajar di sekolah kedokteran, saya bersyukur bertemu dengan orang-orang cerdas dan hebat-hebat. Tapi saya masih dibikin heran. Kelas ini adalah kelas elit, tempat para calon dokter ditempa. Ternyata idealisme dan integritas tak banyak menemukan orang-orangnya. Praktek nyontek pun dilakoni dengan trik yang lebih komplit dan tentunya lebih elit.

Dan hari ini saya tak lagi akrab dengan institusi pendidikan formal, ingin tau apa lagi yang terjadi, saya mencoba mengontak seorang teman lama yang kini telah menjadi seorang guru, dan katanya beliau lagi sibuk, tepatnya sibuk menyiapkan jawaban untuk ujian akhir murid-murid mereka...he..he.
Namun saya tak lagi heran, karena heran saya telah lama punah. Inilah wajah bergincu pendidikan kita. Memoles wajahnya dengan coreng hitam dan kepalsuan.

Justru Heran itu hadir kembali, ketika mendengar kabar para siswa kelas VI SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) menolak diberi contekan dan mengatakan pada pengawas "tidak usah pak, itu dosa". Ini baru dahsyat.
Tapi makhluk apakah ia gerangan, masih diperlukan waktu agar ia menjadi bilangan dominan untuk menjadi trend baru yang akan didedikasikan bagi umat dan bangsa ini.
Selamat datang anak-anak muda harapan, sehat akalnya, cerdas pikirannya, dan suci imannya. Di pundakmulah masa depan umat dan bangsa ini kelak di kokohkan.-nuas-

* Salam Hormat buat Uzt Hamzah, seorang pendidik di SDIT Ar Rahmah Makassar... Kapan outbound lagi uzt??
Ambon, 12 mei 2008