Selasa, 09 Februari 2010

Pohon di Tepi Jalan

Aku ingin seperti pohon di tepi jalan, tumbuh ia dari benih unggulan, berasal dari hutan yg jauh, bijinya diterbangkan oleh burung pengelana, lalu jatuh ke semak tak bertuan, pada sebuah tanah yg dipilihkan Tuhan. Beranjak besar ia oleh asuhan alam, diguyur hujan dan di panggang matahari, musim telah membimbingnya menjadi kuat, akarnya menukik ke pusat gravitasi, batangnya kokoh seperti pilar istana, dahan rantingnya layaknya tangan-tangan yang berdoa gemulai menghadap ke langit. Sekali dua kali ia patah, namun ia tak menyerah, berganti dahan yang lebih indah dan lebih kuat. Daun-daunnya rimbun bergoyang seperti bernyanyi, lebih tepatnya berdzikir; bertasbih memuji.

Aku ingin seperti pohon di tepi jalan, bebas berdiri berdamai dengan kehidupan, menghirup udara yang bersih, menghisap air dan saripati yang suci. Merdeka tanpa seteru dan sengketa. Bersahabat dengan siapa saja. Bila hujan datang ia tahu bahwa itu sumber kebaikan, bila kemarau tiba ia sadar itu kesempatan untuk belajar bertahan, bila badai berkunjung ia mengerti alam hendak mengajarnya menjadi kuat, bila petir menyambar ia paham saatnya belajar tentang keteguhan dan keberanian. Bahwa setiap kehendak Tuhan datang dengan sebuah alasan, datang untuk membawa kebaikan.

Aku ingin seperti pohon di tepi jalan, bersyukur dan berbahagia atas kehidupan. Senang bila burung berkunjung, gembira bila musafir berteduh, tak mengusik serangga yang membuat sarang pada rantingnya. Hadir ia untuk memberi manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi kehidupan. Akar dan kulitnya adalah obat, dahan dan rantingnya serba guna, daunnya menjadi pabrik oksigen yg begitu penting, bunganya adalah hiasan, juga buahnya lezat bukan mainan. Bahkan bila mati pun ia kembali menjadi pupuk bagi alam. Ia adalah sumber inspirasi kebaikan.

Aku ingin seperti pesan ayahanda Abu Bakar As Siddiq; " Hiduplah engkau seperti pohon yg tumbuh di tepi jalan, dilempari ia dengan batu, lalu dibalasnya dengan buah." Bagaimana denganmu kawan?-n

Untuk Kawan-kawan di Kejauhan

Ada yang menyatukan kita, bukan darah, bukan pula daerah, atau seluruh ikatan tradisonal yang ringkih itu. Tapi sebuah ikatan yang melampaui itu semua. Kita berjarak pada awalnya, tak bersinggungan pada mulanya. Sampai kita sadar bahwa kita sama-sama gelisah akan kenyataan kekinian. Kesatuaan perasaan, gerak pemikiran, dan yang paling penting adalah kesemaan gejolak batin yang kemudian membawanya pada arus yang searah, yang walau masih belum deras namun sebuah kenyataan bahwa gerak itu telah dimulai, dan semoga terus menderas jadi gelombang.

Tapi ada saat bekerja bersama-sama, dan ada waktu perjalanan harus dilanjutkan kembali, berpencar ke medan yang berbeda, untuk menyerap sari pati kehidupan yang lebih banyak, dan melengkapi mozaik-mozaik takdir yang lain, dan tentunya selalu berharap bahwa semua perjalanan ini adalah ikhtiar untuk menggenapkan pengabdian kepada-Nya. Dan pada akhirnya kita telah paham bahwa kepergian dan keterpisahan jarak bukan lagi musabab yang boleh membuat renggang kebersamaan, sebab sejatinya “kekitaan” kita terletak pada kebersamaan menanggung kehendak cita-cita dan jalan panjang perjuangan.

“ Ia adalah gerak yang tak kenal henti. Ia adalah keteguhan tak kenal menyerah. Ia adalah bukti kejujuran pengakuan siapapun yang mengaku bertuhan Allah” (ust Rahmat Abdullah. Alm)

Salam Hormat dan rindu kepada seluruh Kawan seperjalanan tempat kami berguru tentang banyak hal, yang kini berpencaran dan berjauh-jauhan.-n

Makassar, Januari 2010.

Lima Tahun Bencana Tsunami Aceh

Lima tahun adalah jarak yang relatif cukup panjang untuk sebuah kenangan, namun tetap saja, bila ia hadir kembali, terasa segala kenangan itu seperti masih sangat basah, sebasah tanah yang belum kering dibasuh tsunami atau basah aroma kesedihan yang menggenang kuat ketika tiba pertama kali ke tanah itu.

Perjalanan ke Aceh pasca tsunami lebih dari sebuah perjalanan biasa, ini adalah perjalanan spiritual secara pribadi, ada banyak pelajaran dan hikmah dari peristiwa maha dahsyat itu. Tak ada hati yang tak bergetar menyaksikan keadaan di sana kecuali hati itu benar-benar telah mati. Ini tentang ke dahsyatan kekuatan Tuhan, tentang keteguhan jiwa, juga tentang persaudaraan yang dibuktikan.

Bertanya pada anak-anak Aceh sedahsyat apa ketika petaka itu datang, cukuplah rasanya mereka mewakilkan kalimatnya, “ kami mengira pagi itu kiamat telah tiba”. Setelah tanah bergoyang kemudian sapuan gelombang tsunami tiba-tiba datang tanpa permisi, sekejap saja dalam gemuruh yang mengejutkan, pokok-pokok kayu patah, tiang-tiang sepakat bersujud, rumah dan gedung rata hanyut pergi jauh, jembatan rubuh dan menara-menara jatuh terpilin, siapakah yang lebih kuat dari itu. Setelah itu semua kemudian tersentak lagi pada kenyataan yang memilukan. Pada kehilangan yang dalam, saat semua pergi begitu cepat, hanya sekejap bahkan tak ada yang sempat berpamitan. Melihat sisa-sisa kejadian itu, bergetar dan mengakui ini hanyalah pekejaan Tuhan, kekuatan dahsyat yang tak tertandingkan.

Peristiwa ini Juga bertutur akan keteguhan jiwa, tentang kehilangan yang amat menguncang. Bapak yang ditinggalkan cinta dan kebanggaannya, sang istri dan anak-anaknya sekaligus, ibu yang kehilangan buah hatinya, dan anak yang bertahan dalam kesunyian hidupnya yang tiba-tiba karena ibu bapaknya pergi bersama tsunami entah kemana. Terkenanglah suatu sore di camp pengungsi Aceh Besar Gue gajah, ketika bertemu dengan seorang bapak yang berusaha memenangkan kesabaran dan berkuat untuk merapikan kembali sisa-sisa harapannya, saat tiba-tiba seluruh anggota keluarganya hilang, istri dan anak-anaknya, serta semua harta kepunyaanya, kemudian tersisa hanya ia sendiri. Ia memang lebih banyak diam, tapi ia juga tak ingin larut dalam kesedihan yang berlebih. Dan sang bapak tak menyerah, ia tak ingin rasa putus asa mengalahkan harapan dan imannya. Entah apakah kita sanggup sekuat itu?

Masih di tempat yang sama saat berbincang dengan seorang ibu, ia mengenang lagi, pagi itu ia sedang ke pasar membawa jajanan pisang gorengnya, ketika peristiwa itu terjadi dan semuanya berlangsung dengan sangat cepat, tiba-tiba, panik dan kacau balau, kemudian keajaibanlah yang membuat ia akhirnya bisa selamat dari amukan sang gelombang. Setelah itu tak pernah ia berjumpa lagi dengan anak-anaknya, dua minggu setelah tsunami waktu kami berbincang-bincang, setiap hari ia masih terus mencari-cari kabar dan tetap berharap ada berita baik yang membawa pesan tentang anak-anaknya. Meski kabar itu tak kunjung datang, namun ia tetap bersabar bahkan ia masih mampu meneguhkan dirinya, bahwa ia harus kuat, bukan hanya dirinya bahwa ada banyak yang lain sepertinya, masih lekat bagaimana ibu itu kemudian tersenyum diakhir penuturannya, justru sayalah yang menangis mendengar tuturnya yang menggetarkan. Mereka sungguh kuat.

Bahwa kemudian ada satu dua yang terpuruk dalam kesedihan, menyerah pada nasib, namun kenyataannya mereka dominan adalah orang-orang yang teguh meninggikan keyakinan. Sungguh percaya akan kebiksanaan Allah pada setiap keputusan-Nya. Berserah sepenuhnya pada rencana-Nya. Di sinilah sebuah kenyataan dimana kesabaran menemukan orang-orangnya.

Dan tak sekedar itu, bahwa peristiwa ini telah membangkitkan solidaritas kemanusiaan yang sungguh mengagumkan, mungkin belum pernah semangat persaudaraan tersentak sedemikian kuat dan begitu massif di negeri ini dari ujung negeri terjauh sampai di pelosok, bantuan mengalir begitu ringan, tanpa pikir panjang, dan tak dibatasi lagi oleh sekat suku, agama, dan warna kepentingan. Sampai kemudian bantuan menumpuk hingga berbulan-bulan di posko dan pelabuhan akibat begitu banyak bantuan yang terkumpul. Demikian juga relawan yang datang mencurahkan apa yang bisa diberikannya, dengan segala macam spesifikasi dan spesialisasinya. Jadilah kota-kota di Aceh saat itu seperti kota relawan, setiap arah kita memandang hampir selalu saja ada relawan berdiri di situ. Bila peristiwa ini adalah ujian akan ikatan dan rasa persaudaraan kita, artinya kita telah berhasil melampaui ujian dan membuktikan rasa itu, satu rasa satu penanggungan.

Demikianlah lima tahun telah berlalu namun setiap kenangan pada hari-hari itu masih saja terasa begitu dekat. Pada bocah-bocah bermata riang di tenda-tenda pengungsian yang belum mengerti sepenuhnya apa yang terjadi ketika berpesan dikirimkan baju pramuka saat kami berpamitan akan pulang, juga pada seorang ibu yang mohon dihadiahi sebuah nama untuk bayinya yang lahir dibawah tenda yang sungguh tak layak. Atau pada kenangan saat hadir berdiri di sisi pantai Lokh nga di sebuah pagi yang pilu, berdiri di antara reruntuhan dan jenazah yang belum dikubur. Angin di sana hening, entah ia turut bersedih atau mungkin juga hanya mengalun pelan berzdikir, bertasbih membelai pohon dan tiang-tiang yang rubuh bersujud mengalah. Dan pada semua ‘kekalahan’ itu terbaca terang kalimat Tuhan, bahwa sungguh tak ada yang berhak merasa besar selain-Nya, dan hanya kepada-Nya lah berserah dan kembali segala sesuatu.

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa…” ( Al qur`an Surah Ar- Ra’d : 15)

Dan kini lima tahun pasca Tsunami, semoga Aceh kita telah jaya kembali.-n


“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (Al qur`an Surah As-Sajdah : 15)


Banggai, Awal Januari 2010.

Kemanakah Negeriku Berlabuh?; Sekedar catatan Kecil Akhir Tahun

“ …
Tanah pertiwi anugerah ilahi , jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah Ilahi, jangan makan sendiri

Aku heran, aku heran
Satu kenyang, seribu kelaparan
Aku heran, aku heran
Keserakahan diagungkan…”(Perahu Retak; Franky Sahilatua)


Bayi-bayi yang lahir hari-hari ini rupanya akan menangis lebih keras, sesak menyaksikan ulah bapak-bapaknya yang sungguh tak lucu, atau jangan ditanya bila ada yang memilih untuk tak menangis sama sekali serta lebih suka untuk tak membuka mata selamanya, tak ingin menjadi saksi kepalsuan yang begitu rupa, drama murahan para aktor antagonis, berbual dan bertingkah setiap hari.
Inilah kenyataannya, kita terpuruk sebagai bangsa. Terjajah oleh kepentingan untuk membuntingkan perut sendiri, menggadai kehormatan dan meloloskan rasa malu. Menggauli kenistaan disiang hari tanpa rasa risih dan peduli. Alamat apakah ini?!

Sementara segelintir yang masih bersih disakiti dan dipaksa masuk bui, difitnah dan dizalimi. Lalu terang di sana para pelacur kekuasaan asyik bertransaksi berapa takaran keadilan dihargai. Neraca keadilan tak lagi berpihak pada kebenaran tapi telah dipalingkan kepada pemilik nominal rupiah yang tertinggi.

Entah sejak kapan tragedi itu bermula, ketika korupsi menjadi kelaziman yang teramat biasa, kolusi dan praktek suap tak lagi dianggap sebagai aib, tindakan amoral dan penyakit sosial dilanggengkan hanya dengan sebuah alasan sebuah keniscayaan peradaban yang tak bisa lawan. Lalu masih pantaskah kita bertanya bila musibah mendera begitu rajin, dan masih sempat pula mereka mencela Tuhan sebab Dia tega, ujarnya demikian. Pertanda apakah ini?!

Ramai pula berkuasa sang komparador bermental hipokrit, berlagak sok pahlawan namun tega menjual bangsa kepada penjajah, maka jadilah negeri yang kaya raya terjerat hutang yang tak kunjung lunas terbayar, kekayaan alam yang melimpah di bawah lari keluar negeri meninggalkan pribumi mengigit jari dan kekurangan gizi, sungguh tak lucu negeri penghasil energi tak berdaya dilanda krisis energi, aset strategis dijual murah sampai makhluk mikro bernama virus pun dijajakan. Kehormatan dan kedaulatan digadai.

Dan kita terus saja bermimpi pada generasi yang akan mewarisi sejarah ini, sebagai sandaran harapan untuk membangun negeri ini kelak, namun apa yang terjadi bila sekolah tempat mereka membenihkan inspirasi dipenuhi dengan praktek manipulasi. Sungguh kita menyaksikan sekolah-sekolah anak negeri hari ini ramai memproduksi insan-insan yang lemah intregritas diri. Bila ini tak berhenti dua puluh sampai tiga puluh tahun kedepan mengharap negeri ini akan bermartabat serta bebas dari moral yang berpolusi masihlah sebatas mimpi.

Lalu terdengar aneh bila seorang anak muda yang memilih bertahan dan tak ingin melakoni perilaku suap dan korup, seperti halnya seorang anak belia di bangku sekolah yang menasihati gurunya saat ‘berderma’ membagikan jawaban saat ujian. Siapakah mereka? Namun sejatinya merekalah anasir perubahan untuk masa depan yang gemilang, mereka yang tegar bernafas ditengah keruhnya udara yang dipenuhi toksin, menjaga imunitas diri demi melawan penyakit zaman yang telah edan. Dibutuhkan keteguhan untuk mendukung mereka menjadi bilangan dominan, agar bisa menggantikan dan mempersilahkan bapak-bapaknya mundur saja yang hanya bisa berpidato penuh retorika dan sibuk memoles citra diri, terlebih lagi para sepuh yang menyebut dirinya wali amanah tapi aslinya hanyalah mafia pelaku durjana.

Kita tak ingin bahtera besar bangsa ini karam sebelum berlabuh, adalah ditangan kita untuk mengawal perjalanan agar kelak tiba di tanah harapan. Memberi apa yang kita punya, bekerja apa kita bisa. Bukan menjadi penumpang yang justru merusak dan membuat retak dindingnya. Kita masih punya waktu untuk berbenah diri, sebelum bahtera besar bangsa ini benar-benar pecah lalu karam.Kita akan membawa bahtera besar bangsa ini berlayar gemilang seperti bahtera nabi Nuh menaklukkan badai. Kita bisa!-n
“…
Perahu negeriku, perahu bangsaku
Jangan retak dindingmu
Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu
Jangan terantuk batu…” (Perahu Retak; Franky Sahilatua)

Bunta-Banggai, Penghujung Tahun 2009

Menyambut Muharram

Di mana sinar Matahari jatuh, di sana benih Islam akan tumbuh. Hari ini kalimat itu telah menjadi kenyataan. Di setiap sudut bumi, kalimat Tayyibah bergaung dari lisan-lisan yang basah oleh dzikir, dari anak benua Amerika nun di barat sana sampai ketimur jauh di pelosok Timika Papua. Dari sisi utara di lembah-lembah pedalaman Kaukasia sampai perkampungan terpencil pulau-pulau Nusantara Indonesia. Jauh dari episentrum tempat cahaya itu datang pada kali yang pertama.

Datang ia ( Rasulullah SAW) di penghujung sejarah dua kampiun peradaban, Imperium Romawi di barat dan rival utamanya sang raksasa timur Imperium Persia, tiba dengan membawa pencerahan ketika malam peradaban umat manusia tiba pada gelap yang paling pekat. Mina dzulumati ilan nur; membawa manusia dari kegelapan kepada terang cahaya. Membawa pembebasan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju penyerahan diri kepada Rabb semesta alam.

Sendiri ia datang pada awalnya, lalu ia meninggalkan lebih seratus ribu sahabat saat perginya, sendiri ia melawan pada mulanya, kemudian ia memimpin enam puluh delapan pertempuran setelahnya. Tak punya kekuasaan waktu datang kemudian menyatukan Jazirah arab dibawah panduannya. Pemimpin yang di cintai kawan dan disegani lawan-lawannya.

Lahir ia ditengah lingkungan yang keras, masyarakat gurun didikan alam yang ganas, bangsa nomaden yang gemar berperang, buta huruf dan tak terdidik, menyembah tuhan-tuhan yang berbilang, terbiasa membunuh bayi-bayi perempuannya, menistakan para istri dan memuja harta dan khamr. Sebuah komplikasi penyakit peradaban yang begitu kronis. Dua puluh tiga tahun genap kemudian setelah ia diutus membawa risalah, seolah tiba-tiba kita menyaksikan peradaban itu berganti wajah. Peristiwa transformasi sosial tercepat sepanjang sejarah peradaban. Ketika para penggembala dan kaum yang terpinggirkan sejarah tampil menjadi pemimpin yang begitu gemilang, bangsa yang sebelumnya hanya mengenal perang dan perpecahan menyatukan bangsa Arab dalam satu ikatan Tauhid. Supremasi iman, keadilan, kejujuran, persamaan hak, dan rahmatan lil alamin adalah karakternya.

Telah ia wariskan risalah agung ini (al Islam), yang kemudian cahayanya menerangi kegelapan di Persia, membebaskan kejumudan di Romawi, terus bergerak mencerahkan keterbelakangan di tanah-tanah yang lebih jauh. Lalu berabad-berabad kemudian cahaya ini terus bersinar, menjadi mercusuar peradaban umat manusia, maka terkenanglah Cordoba, Bagdad, Konstitinopel, Kairo dan pusat-pusat peradaban lainnya. Berlanjut terus sampai seribu empat ratus tahun lebih hingga hari ini, cahaya itu akan terus menyala, dalam diri dan jiwa kita. Tak kan padam.

Maka ucapkanlah salam serta sholawat pada lelaki agung itu; Ya Nabi salam `alaika, ya Rasul salam `alaika. Shollallahu `alaihi wasallam. -n

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At Taubah: 128)

Bunta- Banggai, Awal Muharram 1431 H/ Desember 2009