Kami juga anak Indonesia, yang ingin berkata tentang warna bendera ini, merahnya adalah darah kami seperti putihnya juga adalah belulang kami. Maka jangan tanya kadar kesetiaan, apalagi menuding atas makar dan konspirasi. Sebab negeri ini adalah tanah tempat tertumpah darah dan kuburan ari-ari kami, yang akan kami jaga dengan perisai raga bahkan sampai mati.
Kami juga anak Indonesia, yang setia dan khidmat di bawah bendera, tak kan kami gadai kehormatan apalagi menjual kedaulatan negeri demi kepingan-kepingan materi untuk sehari dua hari. Jadi jangan tanya lagi, apalagi dengan laras dan mortir yang tak punya nurani.
Sungguh kamilah yang layak bertanya wahai bapak-bapak pemangku kuasa, tentang arti merdeka dan warna bendera. Bila kita telah merdeka, kenapa mereka menebangi pohon-pohon kayu kami, membawa pergi minyak bumi dan gas alam negeri ini, tak meninggalkan kecuali kemiskinan yang tetap lestari bagi anak-anak kami. Kemarin masih terang gunung berkilau emas tertimpa cahaya, hari ini hanyalah menyisakan lembah yang tak selesai digali kemudian dibawa lari keluar negeri. Bila warna bendera kita sama wahai bapak-bapak wali amanah, mengapa tak jua datang bersua keadilan di tanah kami, pemerataan pembangunan, keseteraan pendidikan dan kelayakan kesehatan. Kesejahtraan terlampau mewah untuk kami kabarkan pada anak-anak yang terus kekurangan gizi.
Sungguh kami harus berbuat, menentukan jalan untuk berlari mengejar mimpi-mimpi, kami punya semua, dan jenuh kami akan janji yang selalu dikhianati. Sedih hati meratapi anak-anak pucat pasi, sakit digerogoti malaria setiap hari. Tanah ini kaya raya, letihlah rasa melihat para ibu hanya menggelar buang-buah pinang dan mengurus petatas dan keladi.
Sebab kami juga anak Indonesia dan warna bendera kita sama, jadi jangan buat kami merasa di bedakan.
Timika Papua, 16 Agustus 2009
Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 Februari 2010
Jumat, 27 Maret 2009
Ada Apa dibalik Cakrawala
| Sorong menjelang senja, duduk di atas ”Tembok Berlin” cuaca tampak tak terlalu cerah, lebih dari separuh langit tertutup awan, kecuali tersisa di ufuk barat sedikit celah menyisakan terang. Tampak di kejauhan beberapa kapal barang dan penangkap ikan membuang sauh, lebih jauh lagi bayangan Pulau Salawati kelihatan samar-samar. Pantai Sorong hari ini sangat ramai, anak anak hingga dewasa duduk berjejer-jejer di bibir pantai. Pasir hitam pantai tampak semakin kotor oleh sampah yang tak terurus berserakan, sementara orang-orang seolah tak peduli tetap saja sibuk dengan suasana hatinya masing-masing. Ada yang sibuk bermain dengan hempasan ombak yang tak berhenti berkejaran, juga ada yang sekedar bercerita, berduaan, berteriak dan melempar pasir, di sisi saya orang-orang menikmati gorengan ’bakara’ dan pisang dari seorang penjual dengan dialek Makassar. Saya sendiri hanya duduk menghadap pantai, menatap lurus jauh ke depan dan terhenti di batas garis horizon. Sambil menggerakkan pena, di dalam benak menyeruak tanya; ada apa lagi di balik cakrawala sana? Manjelang senja, ”Tembok Berlin” Sorong, 23 Feb 2009 |
Label:
Papua,
pencarian,
perjalanan
Jumat, 13 Februari 2009
Lelaki cahaya 2
Ia telah lupa kapan terakhir kali tangisnya pecah dalam shalat, saat pundak bergetar dalam sujud panjangnya, ketika keluh dialirkan luruh bersama doa-doa yang terangkai meminang keridhoan Tuhannya. Waktu itu air mata jatuh tak terbendung, seperti hujan turun di puncak musim. Seperti bah yang membawa keresahan-keresahan menjauh. Sungguh ia telah lupa kapan terakhir kali, ketika ia datang berserah dengan sempurna penghambaan.
Lalu tiba-tiba datang kerinduan itu, hadir bersama panggilan kemuliaan yang menyeruak menembus jauh kedalam celah batin yang paling dalam, berdiam di sana, menerangi ruang-ruangnya. Dan kembalilah sebuah jiwa yang lama terbuai dalam tidur panjangnya.
Sebuah jiwa telah datang
Maka selamat datang jiwa perindu, jiwa yang telah mencukupkan dirinya dengan Allah.
Kini ia telah mengerti bahwa tak ada lagi pilihan untuk kalah.
Maka engkau akan kelelahan menantinya selingkuh dari jalan idealisme, bahkan hingga kesabaranmu sendiri kehabisan kesabarannya. Sampai waktu udzur atau warna pudar dengan sendirinya.
Lalu mengapa engkau masih mencoba lagu lama, menakutinya dengan auman angin dan kilatan halilintar, sungguh sekali lagi engkau akan kecewa, sebab kini ia telah banyak belajar di bawah asuhan badai dan petir.
Seperti juga bila engkau mencoba membuatnya luluh dengan kerlingan atau air mata. Sayang sekali bahwa ia adalah lelaki yang tak lagi terusik dengan melodrama cap kakilima yang banjir intrik dan tipudaya.
Semua telah sama-sama mafhum, bahwa di ujung pertarungan ini, satu akan bertahan dan satu lagi akan pergi membuang muka dan membawa luka. Dan sebab ia tak punya pilihan untuk mengalah, maka tahulah kita siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Dialah sang lelaki cahaya.
Lalu tiba-tiba datang kerinduan itu, hadir bersama panggilan kemuliaan yang menyeruak menembus jauh kedalam celah batin yang paling dalam, berdiam di sana, menerangi ruang-ruangnya. Dan kembalilah sebuah jiwa yang lama terbuai dalam tidur panjangnya.
Sebuah jiwa telah datang
Maka selamat datang jiwa perindu, jiwa yang telah mencukupkan dirinya dengan Allah.
Kini ia telah mengerti bahwa tak ada lagi pilihan untuk kalah.
Maka engkau akan kelelahan menantinya selingkuh dari jalan idealisme, bahkan hingga kesabaranmu sendiri kehabisan kesabarannya. Sampai waktu udzur atau warna pudar dengan sendirinya.
Lalu mengapa engkau masih mencoba lagu lama, menakutinya dengan auman angin dan kilatan halilintar, sungguh sekali lagi engkau akan kecewa, sebab kini ia telah banyak belajar di bawah asuhan badai dan petir.
Seperti juga bila engkau mencoba membuatnya luluh dengan kerlingan atau air mata. Sayang sekali bahwa ia adalah lelaki yang tak lagi terusik dengan melodrama cap kakilima yang banjir intrik dan tipudaya.
Semua telah sama-sama mafhum, bahwa di ujung pertarungan ini, satu akan bertahan dan satu lagi akan pergi membuang muka dan membawa luka. Dan sebab ia tak punya pilihan untuk mengalah, maka tahulah kita siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Dialah sang lelaki cahaya.
Papua, sepertiga malam terakhir -Tengah Februari 2009
Label:
inspirasi,
Papua,
pencarian,
perjalanan
Minggu, 18 Januari 2009
Selamat Jalan Sahabat
"...
Jangan dinanti
Orang yang melempar diri ke Sabilillah
Mereka tahu
Kemana harus menjual nyawa"
(Helvi)
Ada rasa dan air mata yang tertahan, namun ku tak mengerti apakah ini sedih melepas pergimu yang tak pernah berjanji untuk kembali , ataukah ini adalah rasa bangga dan bahagia mengantar jalanmu ke sabilillah. Tapi bila ini adalah dominasi rasa sedih maka tentu tak ingin kupercayai perasaan ini.
Hari-hari ini adalah hari yang menguji komitmen kita, hari-hari yang meminta bukti akan tekad dan kata-kata kita. Masih terang waktu itu, ketika cinta dan cita-cita tertinggi kau azzamkan dan kuaminkan dengan tegas. Dan kini saat itu tiba, maka berangkatlah menjemput impian terindah; kemenangan atau syahid di jalan-Nya. Doa kami akan terus terus tersambung kelangit untukmu sahabat.
Sampaikan rindu dan pembelaan kami untuk anak-anak dan mujahidin di Gaza sana.
-nuas-
Selamat Jalan buat Mas Bambang, sahabat yang berangkat ke Gaza-Palestina sebagai relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)
Sorong, 18 Januari 2009
Jangan dinanti
Orang yang melempar diri ke Sabilillah
Mereka tahu
Kemana harus menjual nyawa"
(Helvi)
Ada rasa dan air mata yang tertahan, namun ku tak mengerti apakah ini sedih melepas pergimu yang tak pernah berjanji untuk kembali , ataukah ini adalah rasa bangga dan bahagia mengantar jalanmu ke sabilillah. Tapi bila ini adalah dominasi rasa sedih maka tentu tak ingin kupercayai perasaan ini.
Hari-hari ini adalah hari yang menguji komitmen kita, hari-hari yang meminta bukti akan tekad dan kata-kata kita. Masih terang waktu itu, ketika cinta dan cita-cita tertinggi kau azzamkan dan kuaminkan dengan tegas. Dan kini saat itu tiba, maka berangkatlah menjemput impian terindah; kemenangan atau syahid di jalan-Nya. Doa kami akan terus terus tersambung kelangit untukmu sahabat.
Sampaikan rindu dan pembelaan kami untuk anak-anak dan mujahidin di Gaza sana.
-nuas-
Selamat Jalan buat Mas Bambang, sahabat yang berangkat ke Gaza-Palestina sebagai relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)
Sorong, 18 Januari 2009
Label:
lawan zionisme,
MER-C,
Papua,
Save Palestina
Kamis, 15 Januari 2009
Untuk Palestinaku
Sebuah Pekik untuk Palestina
Dibacakan dalam Orasi Malam Solidaritas Muslim Sorong untuk Palestina.
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ba’da tahmid dan shalawat
Allah Tabaraka wata`ala berfirman:
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)". (QS Al-Anfal 60.)
Saudaraku di jalan Allah
Belum kering luka yang menimpa saudara kita di Afganistan, sementara darah masih saja tumpah dari arteri anak-anak di bumi Irak, begitu juga cechnya masih saja membara, kemudian hari ini kita kembali dipaksa menyaksikan sebuah tragedi kemanusiaan yang begitu telanjang di Gaza Palestina. Enam puluh tahun Zionis Yahudi laknatullah alaih mencengkram Palestina, sejak saat itu tak ada lagi damai yang meliputi hari-hari di sana. Sekian ribu ibu menjadi janda, melepas kepergian suami dan anak lelakinya di tembak mati di depan mata. Para gadis belia di nodai kehormatannya oleh anjing terlaknat yahudi. Anak-anak kehilangan keindahan masa kecil berganti teror yang mengintai tubuh kecil mereka dari balik moncong senjata dan tank baja.
Dan hari ini, derita dan luka itu semakin menganga. Air mata disana berubah menjadi deras darah yang mengalir tak berhenti. Anak-anak tak berdosa satu-persatu pergi tanpa sempat pamit kepada ibu bapaknya. Rumah, mesjid dan jalanan tak lagi menyisakan rasa aman bertukar menjadi kuburan massal yang menggenaskan.
Saudaraku di jalan Allah
Tapi izinkan saya bertutur tentang Palestina dengan cara yang berbeda.
Saat ini para terlaknat itu telah merengsek maju kejantung kota Gaza, bombardir dan peluru melesat-lesat layaknya pesta kembang api di malam tahun baru, namun semangat perlawanan anak-anak palestina terlanjur melesat lebih tinggi, takbir dan munajat mereka membuat bisu peluru dan bombardir itu.
Maka, kucapkan selamat kepadamu wahai bapak-bapak Palestina, yang terlebih dahulu menyerahkan darah dan jiwa membela tanah dan keyakinan. Yang telah menitipkan semangat bagi generasi pemberani dan tak lagi menyisakan rasa takut kecuali bagi Rabb semesta Alam.
Kuucapkan selamat bagimu wahai ibu-ibu Palestina, yang telah melahirkan sekian ribu pahlawan tak habis-habis. Ibu yang membesarkan anak untuk melepas mereka, menjemput impian tertinggi dan terindah yaitu syahid. Ibu yang tak ingin mempercayai perasaan-perasaannya dan masih tersenyum bangga melihat tubuh anaknya terkoyak dengan peluru. Ibu yang telah menancapkan kerinduan kepada jihad kepada anak-anak yang amat belia.
Kuucapkan selamat untukmu wahai bocah-bocah Palestina, yang merelakan taman dan waktu bermain untuk belajar melempar batu, mengumpul recehan untuk membeli senjata agar kelak kau gunakan untuk membalas sang biadab itu.
Kuucapkan selamat untukmu wahai pemuda dan pemudi palestina, yang dengan senang hati menjadi martir-martir tak terbendung, anak-anak muda yang antri menanti giliran menggapai syahid. Belajar puisi dan arimatika adalah masa lalu bagimu, kini yang ada hanyalah pelajaran strategi serta merakit bom dan peluru kendali.
Selamat bagimu Palestina, tanah yang di berkahi dan terpilih menjadi bumi jihad, dan tak kan berhenti perjuangan sampai yahudi terlaknat itu di kalahkan, bahkan hingga batu bicara “ ini dia yahudi dibelakang saya, datang dan bunuhlah”(Al Hadits). Demi Allah, sungguh kebatilan akan binasa dan al Haq pasti menang. Allahu akbar !!! -nuas-
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dibacakan dalam Orasi Malam Solidaritas Muslim Sorong untuk Palestina.
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ba’da tahmid dan shalawat
Allah Tabaraka wata`ala berfirman:
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)". (QS Al-Anfal 60.)
Saudaraku di jalan Allah
Belum kering luka yang menimpa saudara kita di Afganistan, sementara darah masih saja tumpah dari arteri anak-anak di bumi Irak, begitu juga cechnya masih saja membara, kemudian hari ini kita kembali dipaksa menyaksikan sebuah tragedi kemanusiaan yang begitu telanjang di Gaza Palestina. Enam puluh tahun Zionis Yahudi laknatullah alaih mencengkram Palestina, sejak saat itu tak ada lagi damai yang meliputi hari-hari di sana. Sekian ribu ibu menjadi janda, melepas kepergian suami dan anak lelakinya di tembak mati di depan mata. Para gadis belia di nodai kehormatannya oleh anjing terlaknat yahudi. Anak-anak kehilangan keindahan masa kecil berganti teror yang mengintai tubuh kecil mereka dari balik moncong senjata dan tank baja.
Dan hari ini, derita dan luka itu semakin menganga. Air mata disana berubah menjadi deras darah yang mengalir tak berhenti. Anak-anak tak berdosa satu-persatu pergi tanpa sempat pamit kepada ibu bapaknya. Rumah, mesjid dan jalanan tak lagi menyisakan rasa aman bertukar menjadi kuburan massal yang menggenaskan.
Saudaraku di jalan Allah
Tapi izinkan saya bertutur tentang Palestina dengan cara yang berbeda.
Saat ini para terlaknat itu telah merengsek maju kejantung kota Gaza, bombardir dan peluru melesat-lesat layaknya pesta kembang api di malam tahun baru, namun semangat perlawanan anak-anak palestina terlanjur melesat lebih tinggi, takbir dan munajat mereka membuat bisu peluru dan bombardir itu.
Maka, kucapkan selamat kepadamu wahai bapak-bapak Palestina, yang terlebih dahulu menyerahkan darah dan jiwa membela tanah dan keyakinan. Yang telah menitipkan semangat bagi generasi pemberani dan tak lagi menyisakan rasa takut kecuali bagi Rabb semesta Alam.
Kuucapkan selamat bagimu wahai ibu-ibu Palestina, yang telah melahirkan sekian ribu pahlawan tak habis-habis. Ibu yang membesarkan anak untuk melepas mereka, menjemput impian tertinggi dan terindah yaitu syahid. Ibu yang tak ingin mempercayai perasaan-perasaannya dan masih tersenyum bangga melihat tubuh anaknya terkoyak dengan peluru. Ibu yang telah menancapkan kerinduan kepada jihad kepada anak-anak yang amat belia.
Kuucapkan selamat untukmu wahai bocah-bocah Palestina, yang merelakan taman dan waktu bermain untuk belajar melempar batu, mengumpul recehan untuk membeli senjata agar kelak kau gunakan untuk membalas sang biadab itu.
Kuucapkan selamat untukmu wahai pemuda dan pemudi palestina, yang dengan senang hati menjadi martir-martir tak terbendung, anak-anak muda yang antri menanti giliran menggapai syahid. Belajar puisi dan arimatika adalah masa lalu bagimu, kini yang ada hanyalah pelajaran strategi serta merakit bom dan peluru kendali.
Selamat bagimu Palestina, tanah yang di berkahi dan terpilih menjadi bumi jihad, dan tak kan berhenti perjuangan sampai yahudi terlaknat itu di kalahkan, bahkan hingga batu bicara “ ini dia yahudi dibelakang saya, datang dan bunuhlah”(Al Hadits). Demi Allah, sungguh kebatilan akan binasa dan al Haq pasti menang. Allahu akbar !!! -nuas-
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sorong-Papua, 15 Januari 2009
Label:
dunia Islam,
lawan zionisme,
Papua,
Save Palestina
Langganan:
Postingan (Atom)