Selasa, 09 Februari 2010

Papua Juga (masih) Indonesia

Kami juga anak Indonesia, yang ingin berkata tentang warna bendera ini, merahnya adalah darah kami seperti putihnya juga adalah belulang kami. Maka jangan tanya kadar kesetiaan, apalagi menuding atas makar dan konspirasi. Sebab negeri ini adalah tanah tempat tertumpah darah dan kuburan ari-ari kami, yang akan kami jaga dengan perisai raga bahkan sampai mati.

Kami juga anak Indonesia, yang setia dan khidmat di bawah bendera, tak kan kami gadai kehormatan apalagi menjual kedaulatan negeri demi kepingan-kepingan materi untuk sehari dua hari. Jadi jangan tanya lagi, apalagi dengan laras dan mortir yang tak punya nurani.

Sungguh kamilah yang layak bertanya wahai bapak-bapak pemangku kuasa, tentang arti merdeka dan warna bendera. Bila kita telah merdeka, kenapa mereka menebangi pohon-pohon kayu kami, membawa pergi minyak bumi dan gas alam negeri ini, tak meninggalkan kecuali kemiskinan yang tetap lestari bagi anak-anak kami. Kemarin masih terang gunung berkilau emas tertimpa cahaya, hari ini hanyalah menyisakan lembah yang tak selesai digali kemudian dibawa lari keluar negeri. Bila warna bendera kita sama wahai bapak-bapak wali amanah, mengapa tak jua datang bersua keadilan di tanah kami, pemerataan pembangunan, keseteraan pendidikan dan kelayakan kesehatan. Kesejahtraan terlampau mewah untuk kami kabarkan pada anak-anak yang terus kekurangan gizi.

Sungguh kami harus berbuat, menentukan jalan untuk berlari mengejar mimpi-mimpi, kami punya semua, dan jenuh kami akan janji yang selalu dikhianati. Sedih hati meratapi anak-anak pucat pasi, sakit digerogoti malaria setiap hari. Tanah ini kaya raya, letihlah rasa melihat para ibu hanya menggelar buang-buah pinang dan mengurus petatas dan keladi.

Sebab kami juga anak Indonesia dan warna bendera kita sama, jadi jangan buat kami merasa di bedakan.

Timika Papua, 16 Agustus 2009

Bendera; Telahkah Kita Merdeka?

Sebuah Bendera di timur jauh
Berkibar setengah ragu
Tegak tiangnya tak tangguh
Warna merahnya pucat semu
Putihnya kelabu, berdebu

Sebuah bendera di timur jauh
Digerek pelan-pelan oleh anak setengah berbaju
Dipandu lagu pilu dan nyanyian deru peluru

Sebuah bendera di timur jauh
Berkibar menahan malu
Sebab enam puluh tahun lebih telah berlalu
Dan ia tahu, merdeka itu masih palsu.

Timur Jauh-Papua, Agustus 2009

Sejenak Kita Berhenti

Pada akhirnya perjalanan ini memang harus berhenti sejenak, jeda untuk menukar nafas, dan memberi hak pada segenap ruas buku-buku untuk rehat, sekaligus mengulang kembali pertanyaan-pertanyaan pada diri yang pernah diajukan waktu itu ketika awal beranjak pada kali yang pertama.

Sungguh suatu hal yang insani, bila kejenuhan itu hadir, keletihan yang menyurutkan tenaga, menguras semangat, serta menghapus kelembutan. Sebab kenyataannya, panorama kehidupan tak selalu indah dalam perjalanan, ada banyak tanjakan, kerikil tajam, dan tikungan yang tiba-tiba. Kejutan-kejutan, ketegangan-ketegangan, keributan riuh rendah, serta kealfaan-kealfaan diri, kesemuanya bisa menumpulkan ketajaman untuk mengutip hikmah dan memetik pelajaran.

Maka sejatinya penghentian ini adalah sebuah kebutuhan, tentu bukan sebagai sebuah pelarian untuk mengambil jarak dari kerja dan kemuliaan atau sekedar memenuhi kecendrungan untuk istirahat, tapi sebagai sarana instrokspeksi untuk menghitung kekurangan dan menakar kekalahan. Juga sebagai penguatan dengan mengisi kembali energi yang hilang. Sekaligus kesempatan untuk menata ulang rencana dan harapan, serta meneguhkan azzam akan kejayaan dan kemuliaan. Bahwa bukan hanya tantangan dan godaan yang layak untuk dipetakan, jelas kenyamanan yang mengumpan dan perjalanan yang bergerak linier tanpa fluktuasi patut kita pertimbangkan kembali, sebab memiliki peluang untuk melenakan dan mematikan.

Di penghentian ini kita akan berhitung, ada yang biasa menyebutnya dengan ` Muhasabah`. Seperti sebuah rumah teduh yang selalu dirindukan, kita pergi dalam perjalanan yang jauh, mendapati negeri-negeri yang baru, bertemu dengan peradaban-peradaban yang asing, di sana kita menemukan sari pati kehidupan, lalu pulang kembali ke rumah merenungkan perjalanan, pergi lagi kemudian pulang lagi.

Begitulah dititik perjalanan ini, kita memang patut berhenti dan bertanya, karena perjalanan ini relatif telah cukup jauh, dan apakah kita masih tetap setia pada takdir penghambaan kita. Sebab di tempat kita berdiri kini, jangan sampai telah terbentang jarak yang lebar dari jalan juang, jalan yang yang telah dipersyaratkan sebagai mahar untuk membayar lunas kemenangan.

Sejenak kita berhenti.

“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat kepada Allah, dan kepada kebenaran yang telah diturunkan (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al kitab kepadanya, lalu kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” .(Al-qur`an).

Papua, Sya`ban 1430H/ Juli 2009.

Kembali

Puisi kini adalah pedang-pedang patah, nyanyian kejayaan yang tertahan
Cita mulia terserak
Lalu terbang oleh angin musim, entah kemana

Jadilah sepi kehilangan nyawa, tak bersuara
Waktu hanyalah detak yang letih
Berjalan tak peduli lagi pada inspirasi
Diri tak bernyali untuk instrokspeksi

Apa yang terjadi?
Bila semangat itu mati suri,
Ada yang mesti kembali…
Yah, kembali !!!

Di tanah-Nya, Tengah tahun 2009

Catatan Perjalanan; Terhadang Pasukan Perang

Unik dan sedikit menegangkan pengalaman hari ini, pagi-pagi dalam perjalanan mobile clinic. Sepanjang jalan dekat sebuah wilayah menok (sebutan untuk masyarakat pribumi) suku Dani, orang-orang berkumpul, tak biasanya seperti ini. Sesaat kemudian mulai terlihat di sebuah perempatan, jalan terpalang yang di jaga petugas keamanan. Semakin dekat baru kemudian tersadar bahwa keadaan sedang tegang. Satu pasukan suku Dani lengkap dengan senjata panah sedang bersiap-siap untuk perang. Kepala suku sedang berorasi membakar semangat pasukannya. Ini pertama kali saya menyaksikan momen “heroik” seperti ini. Diikuti ritual mengaitkan jari tangan, entahlah mungkin itu sebagai simbol kesetiaan bertarung sampai akhir.

Dengan memberanikan diri, saya dan seorang kawan berjalan mendekat menuju pasukan siap tempur itu, berharap ada peluang untuk memperoleh bantuan aparat untuk lewat. Namun sepertinya aparat berkonsentrasi melakukan negosiasi dengan para sesepuh suku. Beruntung kemudian seseorang mendekati kami, lelaki tua dengan sebuah badik panjang, yang rupanya seorang pasien yang pernah kami tangani. Beliau yang kemudian langsung berbicara kepada panglima pasukan dan seorang tokoh suku bahwa kami adalah tim medis yang sedang bertugas yang akhirnya memberikan kami jaminan untuk melalui palang batas yang terpasang. Tak buang waktu kami segera berlalu sebelum mereka berubah pikiran, serta masih tersisa rasa khawatir kalau saja ada anak panah yang tiba-tiba tersesat salah alamat.

Saya teringat film-film kolosal zaman Troya atau kisah ksatria sahabat Rasul berabad-abad yang lalu. Pasukan itu terlihat begitu bersahaja memanggul panah-panah dan tombak. Sementara di luar sana, orang-orang telah ramai meributkan bom nuklir, senjata kimia dan biologis, bom curah dan rudal balistik interkontinental. Apakah saya tersedot lorong waktu menuju zaman berabad-abad yang lampau? Tapi pada kenyataannya saya benar-benar hadir di hari ini. Ada peradaban yang dikhianati waktu disini ditinggalkan dalam kebersahajaan yang paling melarat.

Namun satu yang membuat saya salut pada mereka, meskipun terlihat masih begitu primitif tapi mereka ternyata masih mempunyai komitmen dan penghargaan pada kemanusiaan. Buktinya mereka membolehkan kami sebagai tim medis melewati perbatasannya tanpa gangguan. Suatu hal yang sangat berbeda apa yang telah dilakukan sang bedebah Izrael yang terkenal mempunyai kehebatan dan kecanggihan sumber daya itu. Malah menghalangi serta menembaki para relawan kemanusiaan di perbatasan. Suatu tindakan tak beradab serta merupakan bentuk karakter primitive yang asli. Hingga saya bertanya, siapakah sebenarnya yang primitif?

Timika, Jumat 5 Juni 2009